Kepala Dinas Pariwisata Tabanan I Gede Sukanada. (BP/bit)

TABANAN, BALIPOST.com – Pengembangan dan pemanfaatan aset milik daerah khususnya di sektor pariwisata terus coba dioptimalkan oleh Dinas Pariwisata (Dispar) Tabanan. Tiga aset menjadi sorotan kalangan dewan saat kunjungan lapangan belum lama ini karena dinilai belum dikonsep pengembangannya secara optimal.

Ketiga aset tersebut yakni DTW Bedugul, lahan di areal Pantai Nyanyi, Desa Beraban, Kecamatan Kediri dan lahan di Desa Pangkung Tibah yang dekat dengan areal pantai.

Kepala Dinas Pariwisata Tabanan I Gede Sukanada, Senin (9/3), mengatakan, khusus kawasan DTW Bedugul, Baturiti, yang sebelumnya dikelola oleh pihak ketiga, saat ini sudah dikonsentrasikan pada pemkab sebagai eksekutor dan pengelolaannya. Ini dilihat dari beberapa anggaran yang sudah banyak dialokasikan untuk penataan kawasan wisata yang berjaya di era tahun 80-an itu.

Baca juga:  Cakupan Imunisasi MR Lampaui Target, Pemkab Raih Penghargaan dari Kemenkes

Konsep yang dirancang untuk DTW Bedugul yakni rest area dan sport tourism serta kuliner. Ini dimaksudkan agar ada integrasi dengan objek wisata lainnya yang ada di sekitarnya. Misalnya The Bloom Garden dengan wisata bunganya, DTW Ulundanu Beratan dengan keindahan pura yang ada di tengah danau, dan DTW Bedugul nantinya dengan rest area serta kulinernya.

“Jadi, tidak saling menjatuhkan melainkan pariwisata terintegrasi dengan baik. Saat ini kami merancang grand design pengembangan pariwisata terintegrasi dan satu pintu,” terang Sukadana.

Menurutnya, untuk aset di Nyanyi saat ini masih tahap penjajakan payung hukum di Tanah Lot. Sementara satu aset lagi di Desa Pangkung Tibah, Kediri, terkendala tidak adanya akses jalan. (Dewi Puspawati/balipost)