Wisatawan sedang berbelanja di Pasar Ubud. (BP/dok)

DENPASAR, BALIPOST.com – Dinas Pariwisata Provinsi Bali sudah mengakui adanya penurunan kunjungan wisatawan Tiongkok akibat wabah virus corona. Namun demikian, tidak semua kawasan pariwisata di Bali terdampak cukup besar.

Seperti misalnya dua kawasan turis yang terkenal, yakni Sanur dan Ubud. Keduanya memiliki pangsa pasar utama wisatawan Eropa dan Australia.

“Sanur ini adalah daerah yang memang terdampak sedikit 6-7 persen, Ubud 3-5 persen. Tetapi yang terdampak besar adalah daerah seperti Kuta, Seminyak dan Nusa Dua,” ujar Ketua BHA sekaligus Chairman Sanur Hospitality Forum, Ricky Putra di Denpasar, Sabtu (15/2).

Sementara itu, pasangan wisatawan asal Belanda Johannes dan Anna yang tengah menikmati liburan di Sanur mengaku tidak khawatir dengan wabah virus corona. Mereka percaya dengan upaya antisipasi yang dilakukan pemerintah Indonesia, khususnya Bali.

“Di Bali tidak ada masalah dengan corona. Itu hanya terjadi di China. Apalagi pemerintah Belanda tidak ada melarang pergi ke Bali, begitu juga sebaliknya Pemerintah Indonesia tidak ada melarang kami datang ke Bali,” ujar Johannes.

Baca juga:  Australia pledges to stop exporting its trash

Hal senada disampaikan Rob Horbach, wisatawan Belanda lainnya yang mengaku senang berada di Bali. Menurutnya tidak perlu ada kekhawatiran yang berlebihan.

Meskipun jumlah orang yang terinfeksi di Tiongkok kelihatan besar, tapi kalau dibandingkan dengan jumlah keseluruhan penduduk di Tiongkok sebetulnya masih terbilang kecil. “Tapi juga tetap harus waspada dan semoga saja tidak terjadi di Indonesia, khususnya Bali,” ujarnya.

Menurut Rob, kasus virus corona saat ini tidak ada di negara asalnya Belanda. Walaupun sudah ada yang terinfeksi di negara tetangga seperti Inggris dan Jerman, tapi itupun masih bisa dimonitor. Sama seperti Indonesia, Belanda juga menutup sementara penerbangan ke China. (Rindra Devita/balipost)