Ilustrasi. (BP/Antara)

DENPASAR, BALIPOST.com – Virus Corona Wuhan bukanlah satu-satunya penyakit karena virus yang pernah kita dihadapi. Ada banyak jenis virus yang sudah muncul sebelumya seperti flu burung, flu babi, SARS hingga MERS-CoV. Sampai saat ini masih jarang obat spesifik yang mampu menangani penyakit karena virus.

Tidak seperti penyakit yang dikarenakan bakteri dimana pilihan obat antibiotiknya berbagai jenis dan lebih spesifik. Jarangnya obat spesifik untuk virus ini karena virus sangat sulit dikultur dan diidentifikasi sehingga menentukan obat dan penanganan yang tepat juga menjadi sulit.

Kepala Instalasi Laboratorium Terpadu RSUP Sanglah, Dr.dr. Ida Sri Iswari, SpMK., Mkes, Selasa (4/2) mengatakan virus lebih sulit ditangani karena masih terbatasnya fasilitas dan laboratorium khusus untuk penelitian virus dan juga sulitnya mereka untuk dikultur dan diidentifikasi. ”Dalam membuat obat yang disebabkan mikroorganisme kita harus identifikasi terlebih dahulu. Untuk mengetahui struktur dan sifatnya baru kemudian dikembangkan obat atau vaksinnya. Untuk virus sangat susah karena fasilitas dan laboratoriumnya terbatas,” jelas Ida Sri.

Virus lanjut Ida Sri sulit untuk dikembangkan, sebab mereka hanya bisa hidup di dalam sel yang hidup. Inilah yang menjadi alasan mengapa pengembangan virus untuk menentukan identifikasi dan obat yang tepat sulit dilakukan. Tidak seperti bakteri yang sudah banyak metode dan fasilitasnya sehingga lebih gampang diidentifikasi dan kemudian dibuat antibiotiknya.

Baca juga:  Pasien RS Berisiko Malnutrisi

Satu-satunya cara dalam menangani virus saat ini adalah dengan cara empirik. Artinya, yang diobati adalah gejala dan organ yang diserang. Misalnya jika virus menyerang saluran pernafasan, maka obat yang diberikan adalah obat untuk saluran nafas.

Meski tidak ada obat yang spesifik, sebenarnya virus bisa diatasi dengan prilaku hidup bersih dan sehat. Karena tidak bisa hidup lama di luar sel hidup, virus bisa dibasmi dengan disinfektan maupun sabun.

Sehingga disarankan untuk menjaga kebersihan lingkungan rumah dan tentu menerapkan budidaya cuci tangan. ”Virus juga tidak tahan panas. Mereka mati di atas suhu 50 derajat celsius atau paparan sinar matahari terus menerus. Untuk itu disarankan agar kamar atau ruangan tidak lembab dan cukup ada paparan sinar matahari,” terang Ida Sri. (Wira Sanjiwani/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.