Sejumlah siswa sedang belajar. (BP/dok)

 

Berbicara mengenai belajar, memang tidak terpisahkan dari yang namanya guru dan murid/peserta didik. Sampai-sampai ada yang namanya Hari Guru Nasional, meski belum ada peringatan Hari Murid Nasional.

Guru-guru hebat pun telah banyak diungkap sejak zamannya Mahabharata. Sementara di pihak murid, salah satunya yang masyhur adalah Arjuna. Meski dari sisi bakti pada guru justru ditunjukkan oleh Ekalawya, yang rela mengorbankan ibu jarinya demi bakti pada Guru Drona.

Pun soal objektivitas dan subjektivitas guru, termasuk kooptasi kekuasaan terhadap guru dan dunia pendidikan diajarkan dalam kisah Mahabharata. Termasuk soal kemandirian (kemampuan berdikari) dalam belajar murid diajarkan kisah besar itu.

Bagaimana Ekalawya yang belajar mandiri hanya fokus terhadap apa yang dipelajari tanpa kehadiran fisik secara nyata sang Guru Drona. Atau Arjuna yang berdikari belajar memanah di kegelapan justru dari sang kakak Bima yang mampu mengenali makanan dan makan di kegelapan.

Lalu pertanyaannya, Bima belajar dari siapa? Siapakah ‘’guru makan’’ di kegelapan Bima? Jawabnya mungkin insting atau naluri Bima, bisa juga alam lingkungan atau keadaan yang memaksa. Mungkin itu pula orang bijak mengatakan, guru yang paling berharga adalah pengalaman (hidup).

Terlepas dari kisah belajar mengajar zaman Mahabharata, sepertinya kemandirian atau berdikari dalam belajar ini yang menjadi fokus Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim saat ini. Paling tidak terlihat dari empat program pokok kebijakan pendidikan ‘’Merdeka Belajar’’ yang ditetapkannya.

Baca juga:  Dilematisnya Perekrutan Guru

Program pendidikan yang lebih menitikberatkan pada kemerdekaan dan kemandirian murid termasuk guru dalam proses belajar mengajar di kelas/sekolah. Tujuan akhirnya tiada lain mencetak generasi yang mampu berdikari dalam menghadapi persaingan global di masa depan. Jadi murid dan guru diarahkan untuk merdeka memilih metode dan cara belajarnya. Yang penting, keluarannya nanti seorang manusia yang mampu menyelesaikan pesoalannya sendiri tanpa perlu lagi pendampingan subjektif ‘’para Drona’’.

Dalam kemerdekaan belajar sekarang ini, diharapkan berbagai inovasi muncul. Mengingat, saat ini inovasi teknologi telah mendisrupsi segala bidang kehidupan. Berbagai hal baru bermunculan dan berkembang sedemikian cepatnya. Daya saing SDM penerus menjadi penentu kemajuan bangsa ini ke depan.

Bangsa yang berdikari akan berhasil memenangkan persaingan ke depannya. Berdikari dalam segala bidang, terutama sosial ekonomi yang sangat memengaruhi kehidupan lainnya seperti politik, keamanan maupun pertahanan. Berdikari ini telah diajarkan para pendiri negara ini, termasuk Bung Karno, sehingga mampu memerdekakan bangsa ini. Saatnya bangsa ini untuk berdikari sesuai cita-cita kemerdekaan, termasuk dunia pendidikan sudah tentunya. Karena kemerdekaan bisa diraih berawal dari perjuangan pendidikan anak bangsa ini.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.