Suasana di Krematorium Bebalang. (BP/ina)

BANGLI, BALIPOST.com – Keberadaan Krematorium Bebalang mulai dikenal oleh masyarakat. Sejak beroperasi pertengahan 2019, krematorium yang terletak di wilayah Banjar Adat Bebalang itu, telah memfasilitasi upacara kremasi sebanyak 68 jenazah. Satu diantaranya jenasah bayi terlantar yang dibuang oleh kedua orang tuanya.

Krematorium Bebalang cukup mudah dijangkau. Lokasinya berada di pinggir jalan utama menuju Kota Bangli.

Selama ini pengelolaan Krematorium Bebalang dilakukan oleh Yayasan Sagraha Mandra Kantha Santi. Dalam pengelolaannya yayasan yang bergerak di bidang upacara/yadnya tersebut selalu bersinergi dengan Banjar Adat Bebalang.

Kelian Adat Bebalang I Nyoman Karsana yang juga Ketua Yayasan Sagraha Mandra Kantha Santi menuturkan, pembangunan Krematorium Bebalang mulai direncanakan pada 2017. Rencana pembangunan dimatangkan dalam sangkepan krama banjar.

Awalnya, krematorium Bebalang direncanakan dikelola langsung oleh Banjar Adat Bebalang. Namun karena terbentur aturan, pendirian dan pengelolaan harus melalui Yayasan. “Maka dibentuklah yayasan Sagrama Mandra Kantha Santhi,” terangnya, Minggu (1/12).

Selanjutnya pada tahun 2018, proses pembangunan Krematorium mulai dikerjakan di lahan milik Banjar Adat Bebalang seluas 6 are. Pembangunan menggunakan sumber dana dari semua warga Bebalang yang menjadi anggota Yayasan, dengan sistem menanam saham.

Dari warga yang menanam saham itu, selanjutnya dibentuk pengurus untuk mengelola perjalanan yayasan secara professional. Kemudian setelah proses pembangunan rampung, pada 16 Juli 2019, Krematorium Bebalang diresmikan dan mulai beroperasi untuk umum.

Dijelaskan Karsana, hal yang melatarbelakangi pendirian krematorium ini yakni untuk meringankan beban masyarakat dalam melaksanakan upacara penguburan/pengabenan, terutama ketika ada halangan di banjar/desa. Contohnya bila di wilayah banjar/desa ada kekeran odalan pura. “Di luar itu, yayasan juga bergerak sosial, bila ada mayat terlantar, yayasan siap untuk mengupacarai sesuai dengan sastra Hindu,” jelasnya.

Baca juga:  Lansia Ditemukan Tak Bernyawa di Sawah

Sejak berdiri, kata Karsana, sudah banyak masyarakat yang memanfaatkan Krematorium Bebalang untuk menggelar upacara. Tidak saja masyarakat dari Bangli, namun juga dari kabupaten lain seperti Klungkung, Gianyar, Denpasar, Badung hingga Singaraja. Setidaknya hingga saat ini sudah ada 68 jenasah yang dikremasi di Krematorium Bebalang.

Upacara kremasi dilaksanakan mengacu sastra Agama Hindu. Dengan tingkatan banten nista, madya dan utama sesuai kemampuan masyarakat. “Ada juga tingkatan utamaning utama seperti kegiatan pelebon istri bapak Gede Sumarjaya Linggih,” terangnya.

Selain upacara ngaben, Krematorium Bebalang juga memfasilitasi upacara yadnya lainnya seperti ngelungah, metatah, mebayuh dan lainnya dengan tarif/harga beragam. Untuk upacra mekingsan di geni tarifnya Rp 8 juta, mekingsan di toya Rp 11,5 juta. Upacara ngaben mulai Rp 15 juta-Rp 25 juta. Upacara ngaben dan nyekah mulai Rp 29 juta – Rp 41 juta.

Nyekah Tumpangan 5,5 juta, metatah Rp 1,5 juta per orang dan ngelungan Rp 1 juta. Dalam pelaksanaan upacara kremasi, upakaranya difleksibelkan. Pihak Yayasan juga membebaskan warga yang menyelenggarakan upacara kremasi untuk membawa banten sendiri, ataupun terima bersih.

Karsana mengatakan, hal yang membedakan Krematorium Bebalang dengan tempat kremasi lain yakni Krematorium Bebalang dilengkapi pelinggih dalem dan rajapati. Di Krematorium Bebalang juga tersedia bale sumanggen. “Parkirnya juga luas bisa menampung 300 mobil lebih,” tambah Karsana. (Dayu Swasrina/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.