Suasana tabur bunga di Monumen Tugu Pahlawan Nasional I Gusti Ngurah Rai Carangsari. (BP/Istimewa)

Masyarakat Bali bersyukur memiliki momentum sejarah masa lalu guna dijadikan pegangan bagi generasi muda sekarang memaknai kehidupan berbangsa dan bernegara atau dharma negara. Bali memiliki sejarah panjang hingga lahirnya NKRI, 17 Agustus 1945 hingga sekarang.

Kita memiliki peristiwa Puputan Badung, Perang Jagaraga, Puputan Klungkung, Perang Kusamba, hingga Puputan Margarana yang diperingati setiap 20 November. Coba kita bayangkan, tanpa peristiwa ini, sejarah bangsa tak akan seindah sekarang bahkan tak ada artinya perjuangan bagi generasi zaman now.

Menurut sejarawan, Puputan Margarana di Bali tak lepas dari peran Australia terhadap Belanda. Belanda dengan mendompleng Australia kembali menguasai wilayah Indonesia Timur. Hal ini diawali dengan pendaratan pasukan besar-besaran pasukan Australia di Balikpapan. Tentara Australia pun menguasai  Bali pada 2 Maret 1946 dengan pendaratan pasukan Belanda berkekuatan 2.000 tentara di Bali. Pendaratan pasukan ini diikuti konflik internal RI yang dimanfaatkan oleh Belanda.

Di tengah kemelut internal RI, Australia menyerahkan kekuasaannya kepada NICA atas wilayah di luar Jawa. Belanda akhirnya mengadakan pembersihan (agresi) terhadap pendukung rupublik. Raja-raja dan tokoh masyarakat yang berpihak ke RI disingkirkan dan ditangkap.

Untuk memuluskan konferensi besar di Denpasar, maka Belanda membersihkan tentara Indonesia di Bali. Untuk menguasai seluruh Bali terjadilah peristiwa heroik Puputan Margarana di mana Letkol I Gusti Ngurah Rai tewas bersama 95 anak buahnya.

Dari peristiwa heroik ini, kita bisa belajar dari masa lalu. Bahwa konflik internal dipakai alat oleh pihak lain untuk memecah belah NKRI. Kita sudah merasakan masuknya ideologi di luar Pancasila adalah bagian dari pengaruh asing akibat konflik internal bangsa kita. Jika kita tak kuat dengan konsep empat pilar kebangsaan (Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI) akan mudah dimasuki oleh paham lain. Paham lain yang sedang berkembang itu kini disebut radikalisme.

Baca juga:  Bulan Bahasa Bali 2019, Momentum dan Langkah Nyata Pelestarian Bahasa dan Aksara Bali

Bali kini memerlukan pahlawan masa kini untuk menghadapi ancaman intoleransi dan radikalisme yang dianggap sebagai musuh utama bagi kedaulatan bangsa. Sangat jelas, ancaman nyata saat ini adalah masalah intoleransi dan radikalisme.

Tugas kita bersama untuk menjaga keutuhan NKRI. Masyarakat Bali pun mengenal keseimbangan dharma agama dan dharma negara, jalankan kedua kewajiban itu secara seimbang dan benar.

Makanya di Peringatan Puputan Margarana kali ini, warga Bali tak sekadar mengingat jasa para pahlawan yang telah mendedikasikan dirinya untuk kemerdekaan dan mempertahankan NKRI, yang penting adalah  menerapkan spirit para pahlawan Gusti Ngurah Rai dengan menjaga keutuhan NKRI.

Hal ini penting dipahami kaum milenial untuk meneruskan perjuangan yang telah dirintis para pahlawan. Caranya isi diri dengan kegiatan yang positif, berkontribusi dan mencintai Bangsa Indonesia.

Kata “pahlawan’’ berasal dari bahasa Sansekerta, phala-wan yang merujuk pada orang menghasilkan buah phala berkualitas bagi bangsa dan negara serta kebenaran. Maka berlombalah menjadi pahlawan bangsa dan berjuang pada zamannya masing-masing.

Jadilah pahlawan Puputan Margara zaman terkini. Tidak melakukan tindakan yang dapat memecah belah persatuan. Tidak membuat berita hoax, narkoba, dan radikalisme. Sosok layak disebut pahlawan hari ini adalah mereka yang dapat melawan radikalisme dan tindakan intoleransi.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.