Suasana rembug seniman. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Visi dan misi Gubernur Bali ‘’Nangun Sat Kerthi Loka Bali’’ mewujudkan Bali Era Baru mencakup berbagai aspek termasuk seni dan budaya. Bahkan seni dan budaya sebagai bagian dari kebudayaan adalah roh Bali.

Maka menuju Bali Era Baru tidak akan dapat dilepaskan dari upaya menjaga napas hidup kebudayaan. Para seniman sebagai penggerak budaya, menyadari hal ini sehingga memandang penting adanya sinergi di antara seniman, pemerintah dan dunia usaha, baik swasta maupun BUMN, yang hidup dari pariwisata Bali sebagai strategi seni budaya mendukung perwujudan Bali Era Baru.

Dukungan pemerintah terhadap seni dan budaya Bali telah cukup baik. Yang masih menjadi pertanyaan besar adalah peran dari dunia usaha, baik swasta maupun BUMN, yang hidup dari pariwisata Bali kepada seni dan budaya. ‘’Bali memiliki banyak seniman, namun perhatian kepada para seniman belum nyata. Misalnya, seniman yang telah berumur harus dibuatkan riset untuk diketahui datanya, sehingga karyanya bisa di-mapping sebelum dibuatkan program lanjutan. Dan sampai saat ini belum ada yang mengasuh seniman secara serius,’’ ujar Kelian Rumah Budaya Penggak Men Mersi, I Kadek Wahyudita, dalam Rembug Seniman di Warung 63 Denpasar, Rabu (6/11).

Sebagai penggiat seni, Wahyudita berharap pemerintah dan dunia usaha memberikan porsi dan dukungan yang sama kepada semua seniman Bali. Bahkan, mengalokasikan anggaran CSR kepada para seniman agar bisa terus berkarya.

Di samping juga memberikan ruang kreativitas untuk menampilkan hasil karya para seniman. Ini juga sekaligus untuk mendukung visi Gubernur ‘’Nangun Sat Kerthi Loka Bali’’ di mana tujuannya tak semata hanya untuk pelestarian seni, tetapi memanfaatkan seni untuk menjaga karakteristik kebudayaan sebagai ikon pariwisata Bali, dan menyejahterakan para senimannya.

Hal senada diungkapkan Cokorda Putra. Dikatakan, seniman muda saat ini banyak bermunculan yang lebih kreatif dengan berbagai inovasi karyanya. Namun, karena kepentingan politik praktis saat pemilu, hanya seniman yang dekat dengan penguasa saja yang lebih banyak mendapat perhatian.

Seniman yang memiliki kompetensi lebih, namun tak dekat kekuasaan justru terabaikan. Tidak hanya itu, regenerasi seniman pada seni tertentu juga masih kurang mandapat binaan. Seperti seniman patung di daerah tertentu. Hal ini menyebabkan produk-produk yang menjadi ciri khas daerah tersebut mulai bergeser ke arah kepunahan.

Baca juga:  Mewujudkan Bali Bersih Era Baru, Bali Post Gelar Bali Bersih Touring and Fun

Ketua Pramusti Bali IGN ‘’Rahman’’ Murthana mengatakan khusus penyanyi Bali di era digital telah menggeliat. Karya-karya mereka dipromosikan lewat media sosial, dan penyebarannya sangat cepat. Panggung banyak direbut oleh penyanyi pendatang baru yang memiliki fans kekinian.

Tak jarang, penyanyi pendatang baru ini dengan kreatif mengaransemen lagu-lagu penyanyi lawas dan mendapat sambutan hangat di tengah masyarakat. Namun, bagi penyanyi lawas sangat jarang mendapat undangan mengisi event hiburan tertentu. Oleh karena itu, diharapkan pemerintah maupun pihak swasta memberikan ruang lebih kepada penyanyi lawas untuk bisa tampil menghibur masyarakat.

Seperti yang telah dilakukannya baru-baru ini pada ajang Festival Seni Bali Jani 2019. Di mana, penyanyi lawas dan penyanyi kekinian diberikan ruang dalam satu panggung untuk tampil menghibur masyarakat Bali. Terobosan ini dilakukan untuk memberikan ruang antara penyanyi lawas dan penyanyi pendatang baru untuk berkolaborasi. Tidak hanya bagi penyanyi, seniman lain yang ada di Bali juga harus diberikan ruang lebih untuk bisa mengeksplorasikan karya-karya seninya.

Ajik Rahman mengaku saat ini banyak seniman di Bali bergerak secara parsial. Siapa yang dekat dengan penguasa, dia yang mendapat job lebih banyak. Oleh karena itu, pendataan terhadap seniman sangat penting dilakukan. Pihaknya menyarankan agar pada bidang seni tertentu membentuk suatu wadah atau komunitas agar mudah mengoordinasikan, sehingga pembagian job bisa merata.

Seniman lukis Dr. Nengah Wirakesuma menilai saat ini para seniman di Bali lebih banyak dilibatkan pada event pemerintahan yang relatif singkat. Sehingga seniman cenderung menciptakan karya yang berkonotasi dadakan yang tidak memiliki taksu seperti seni Bali yang diwariskan leluhur. ‘’Ketika karya seni sudah dievaluasi, maka karya seni itu sudah dianggap final dan memenuhi syarat-syarat dan elemen-elemen seni, serta sesuai dengan ekspresi rasa yang muncul dari seorang seniman,’’ ungkapnya.

Seniman seni rupa I Ketut Suwidiarta mengaku bahwa sampai saat ini penghubung antara seniman seni rupa dengan pasar masih belum ada. Bahkan, regulasinya belum jelas. Padahal, geliat seniman yang menekuni seni rupa meningkat. Pihaknya berharap pemerintah membuat suatu regulasi yang bisa menghubungkan karya-karya seni rupa ke pasaran, sehingga para seniman tidak hanya berkarya namun juga memiliki pasar yang jelas. (Winatha/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.