Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi Bali I Wayan Widia (kanan) didampingi Kepala Seksi Surveilan dan Imunisasi IGA Raka Susanti. (BP/san)

DENPASAR, BALIPOST.com – Kasus difteri sedang merebak di beberapa daerah di Indonesia. Bali sebagai tempat tujuan wisata, mobilitas atau pergerakan penduduknya cepat, sehingga potensi penularannya besar. Untuk mencegah penularan difteri, Dinas Kesehatan Provinsi Bali memperkuat cakupan imunisasi difteri di samping penerapan hidup bersih dan sehat (PHBS).

Cakupan imunisasi difteri di Bali selalu di atas rata-rata nasional yaitu 99,5 persen. ”Sementara target nasional untuk cakupan imunisasi difteri adalah 95 persen,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi Bali I Wayan Widia, SKM., M.Kes., didampingi Kepala Seksi Surveilan dan Imunisasi dr. IGA Raka Susanti, M.Kes., Senin (28/10).

Menurut Raka Susanti, penanganan utama difteri adalah imunisasi. Imunisasi difteri masuk dalam imunisasi DPT (difteri, pertusis dan tetanus) yang merupakan salah satu vaksinasi yang wajib diberikan kepada balita. ”Anak usia dua tahun harus mendapatkan imunisasi DPT dan akan diulangi saat kelas 1 SD. Dengan imunisasi ini maka anak akan mendapatkan kekebalan dari infeksi bakteri penyebab difteri,” ujarnya.

Karena cakupan imunisasi DPT di Bali tinggi, maka kasus positif tidak menyebar luas karena sudah terbentuk kekebalan kelompok. Namun, bukan berarti pihak Dinkes berpangku tangan. Setiap Puskesmas tetap disiagakan jika menemukan kasus suspect difteri dan segera melapor ke Diskes Kota/Kabupaten yang diteruskan ke Diskes Provinsi. Sampel pasien suspect akan diperiksa di Litbangkes. Tahun 2019 ini, Bali mengirim satu sampel pasien suspect difteri dan hasilnya negatif.

Baca juga:  Gunung Agung Siaga, Klungkung Siapkan Dua Lokasi Pengungsian

Difteri adalah penyakit infeksi karena bakteri corynebacterium diphtheriae menyerang saluran pernapasan. Penyakit ini 100 persen menyebabkan kematian jika tidak ditangani. Gejala awal atau suspect yang patut diwaspadai adalah timbulnya demam, batuk dan infeksi saluran napas atas. Gejala khasnya adalah timbul membran berwarna putih di saluran pernapasan atas. Membran ini merupakan sarang bakteri yang menghasilkan toksin. Jika dibiarkan toksin ini akan menyebar ke tubuh dan bisa berakibat fatal seperti menyebabkan serangan jantung.

Raka berharap setiap orangtua yang memiliki anak balita agar melengkapi imunisasi dasarnya. Setelah itu diterapkan prilaku hidup bersih dan sehat salah satunya kebiasaan mencuci tangan. Bakteri penyebab difteri hidup alami di alam serta bisa menular lewat udara, makanan dan air liur penderita. (Sanjiwani/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.