Warga yang digigit anjing rabies di Sangkaragung dimintai keterangan oleh petugas Peternakan dan aparat desa. (BP/istimewa)

NEGARA, BALIPOST.com – Untuk kesekiankalinya, kasus Anjing Rabies kembali muncul di Jembrana. Dua orang warga di Kelurahan Sangkaragung, Kecamatan Jembrana digigit anjing yang terjangkit rabies.

Padahal di Sangkaragung sudah tercover vaksinasi massal. Lalu, dari mana anjing ini bisa terjangkit virus rabies?

Dari hasil investigasi (penyelidikan epidemiologi) tim reaksi cepat Bidang Keswan Kesmavet, Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana, anjing yang terjangkit rabies dan sudah mati itu masih anakan berumur sekitar dua bulan. Sehingga tidak tercover oleh petugas ketika dilakukan vaksinasi massal beberapa bulan lalu.

Kelurahan Sangkaragung sejatinya juga masuk wilayah yang disasar vaksinasi massal. “Induk anjing ini sudah kita vaksinasi massal. Tetapi meskipun induk sudah divaksinasi, tidak menjamin anakannya juga bebas rabies. Jadi anakan anjing ini lahir setelah divaksinasi dan terjangkit,” ujar Kepala Bidang Keswan Kesmavet, Wayan Widarsa, Senin (30/9).

Widarsa mengatakan untuk tindakan pada anjing, dilakukan tindakan euthanasia (eliminasi) dan vaksinasi lokal di sekitar anak anjing tersebut berada. Dalam sehari, total ada 27 ekor anjing liar yang dieuthanasia dan 43 ekor yang diberikan vaksinasi.

Dari puluhan ekor anjing yang dieliminasi itu, beberapa di antaranya diambil sampel cairan otak untuk diperiksa di laboratorium veteriner. Ketika petugas melakukan upaya vaksinasi, masih ada beberapa warga yang enggan.

Alasan warga, khawatir anjing mereka gatal-gatal setelah divaksinasi rabies. “Sempat ada penolakan, tapi kami beri pemahaman yang benar dan pendekatan bersama aparat desa, akhirnya mau,” tambah Widarsa.

Anjing rabies umumnya setelah menggigit dua kali, langsung mati. Sedangkan untuk virus rabies, masih berpeluang terjadi dan menjangkiti anjing. Terutama anjing yang liar (tidak diikat atau dikandangkan) dan satu-satunya upaya untuk antisipasi melalui vaksinasi anjing.

Baca juga:  Turun, Kasus Gigitan Anjing di Bangli

Sedangkan untuk penanganan pertama bagi dua warga yang sempat digigit anjing, sudah diberikan VAR. Kasus rabies ini berawal dari laporan warga yang digigit anakan anjing pada Minggu (22/9).

Anjing milik I Gusti Ngurah Kade Sudiasa ini menggigit istrinya, Komang Wardani (44) dibagian betis kaki kanan. Pada hari itu juga, korban mendatangi Puskesmas 2 Jembrana dan langsung diberikan perawatan luka.

Anjing tersebut diketahui mati tanpa sebab sehari setelah korban digigit. Dan pada Kamis (26/9) korban kembali mendatangi ke Puskesmas II Jembrana dan diberikan Vaksin Anti Rabies (VAR).

Tim Keswan yang mendapatkan informasi hal tersebut langsung terjun ke lokasi dan mengambil sampel otak anjing yang mati itu. Selain Komang Wardani, anak anjing itu juga sempat mengigit Ni Komang Yuliastuti (37) yang tinggal di Banjar Munduk Anggrek, Desa Yehembang Kauh.

Korban mengaku digigit anjing yang sama saat pulang ke rumah tua di Sangkaragung. “Sampel otak yang kita kirim ke Denpasar, hasilnya kita ketahui Sabtu lalu, bahwa sampel FAT rabies  yang dikirim  positif rabies,” tambahnya.

Dari data yang dihimpun, kasus anjing positif rabies yang ditemukan di Sangkaragung ini merupakan yang kedelapan pada 2019 ini. Tujuh anjing positif rabies sebelumnya ditemukan di Tuwed, Kecamatan Melaya, Banjar Berangbang, Desa Berangbang (Januari), Banjar Warnasari Kelod, Kecamatan Melaya (Februari) dan Banjar Sumbul, Desa Yeh Sumbul (April). Berlanjut pada bulan Juni lalu ditemukan di Banjar Tegal Badeng, Desa Tegal Badeng Timur, Kecamatan Negara dan Banjar Anyar, Tegal Badeng Barat, Kecamatan Negara. Agustus lalu di Baluk Rening, Desa Baluk, Kecamatan Negara. (Surya Dharma/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.