Truk trailer bermuatan paku bumi shortcut yang mogok di Baturiti ditarik dengan alat berat. (BP/ist)

TABANAN, BALIPOST.com – Untuk kedua kalinya, truk trailer bermuatan paku bumi (tiang pancang) untuk proyek shortcut 4 di Desa Candikuning, Buleleng, mogok di jalur Denpasar-Singaraja tepatnya di tingkungan tajam Banjar Taman Tanda, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Rabu (25/9) dini hari. Peristiwa ini menyebabkan kemacetan lalu lintas hampir enam jam.

Dari informasi yang dihimpun, kejadian tersebut terjadi pukul 02.30 wita. Truk H 1966 DF yang dikemudikan Sudarmadi membawa muatan paku bumi 8 buah atau kurang lebih beratnya 22 ton. Karena kurang mengambil haluan ke kanan dan tidak menggunakan persneling dobel gardan, kendaraan tidak kuat nanjak dan berhenti melintang di tengah jalan.

Kapolsek Baturiti Kompol I Nengah Sudiarta mengatakan, truk trailer itu datang dari arah Denpasar atau selatan Terminal Mengwi, Kabupaten Badung, sekitar pukul 24.00 dan dikawal personel Polsek Baturiti. Penyebab mogoknya truk bukan karena kelebihan muatan, namun saat tikungan tajam, sopir kurang mengambil haluan ke kanan. “Kepala truk belok ke kiri yang harusnya lurus. Begitu diluruskan dan ditarik dengan alat berat, sekali tarik langsung bisa jalan,” bebernya.

Baca juga:  Hujan Lebat, Lalin Singaraja-Bedugul Macet

Selama proses evakuasi sempat terjadi kemacetan karena kendaraan dari dua arah dihentikan. “Tidak perlu waktu banyak dalam proses evakuasi. Kami gunakan alat berat milik proyek shortcut,” tegasnya.

Menurut Sudiarta, dalam pengangkutan paku bumi untuk keperluan shortcut sejatinya sudah ada koordinasi dengan pihak ekspedisi. Hanya, ekspedisi kali ini adalah sopir baru sehingga tidak menguasai medan. Padahal pengangkutan sudah dilakukan malam hari pukul 24.00 saat kendaraan sepi, dengan asumsi jika tidak ada halangan akan sampai di tujuan pukul 03.00.

Pada pengangkutan berikutnya, truk akan diberhentikan ketika melewati tikungan tajam untuk melihat medan. Selain itu, kembali mengkoordinasikan agar muatan dikurangi dan minta pihak proyek atau ekspedisi menggunakan sopir yang sudah berpengalaman. “Kalau melewati tingkungan tajam diperlukan sopir berpengalaman dan kuat mental. Banyak sopir angkut bumi yang bisa lewat karena sudah siap,” pungkasnya. (Dewi Puspawati/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.