SVP and Regional Managing Director US-Asean Business Council, Ambassador Michael W. Michalak (kiri) didampingi Chief country representative Indonesia, Landry Haryo Subianto saat ditemui di Seminyak, Minggu (25/8). (BP/edi)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Lima perusahaan Amerika Serikat (AS) akan berpartisipasi di the 1st US-ABC Indonesia Innovation Series & SME Workshop yang digelar pada Senin (26/8) dan Selasa (27/8). Dalam kegiatan yang digelar US-Asean Business Council ini akan ada dua kegiatan, yakni terkait inovasi dan UMKM.

Menurut SVP and Regional Managing Director US-Asean Business Council, Ambassador Michael W. Michalak, Minggu (25/8), kegiatan ini digelar karena banyak perusahaan AS yang tertarik untuk bekerjasama dengan start up di Asean, salah satunya Indonesia. “Mereka tertarik untuk mempelajari inovasi yang dilakukan start up di Indonesia. Salah satu perusahaan yang diketahui adalah Gojek,” ungkapnya.

Ia mengaku telah bertemu dengan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) M. Nasir dan mengetahui bahwa ada puncak perayaan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) di Bali. Sehingga kegiatan ini digelar serangkaian Hakteknas.

Dari lima perusahaan AS yang hadir, ia mengutarakan akan ada perusahaan telekomunikasi yang mengembangkan smart cities dengan memanfaatkan teknologi 5G. “Mereka akan berbicara terkait pemanfaatan teknologi 5G untuk mengatasi persoalan-persoalan perkotaan, seperti kemacetan, penanganan masalah polusi, dan pengaturan logistik,” sebutnya didampingi Chief country representative Indonesia, Landry Haryo Subianto.

Baca juga:  Inovasi dalam Manajemen LPD

Disebutkan perusahaan Amerika ingin belajar lebih jauh perkembangan start up yang ada di Indonesia maupun di negara-negara ASEAN. Diharapkan kegiatan ini bisa membawa keuntungan bagi dua belah pihak. “Jika umpan balik yang kami peroleh positif, kegiatan semacam ini akan dilakukan secara kontinyu,” kata Michalak.

Dalam kegiatan di hari kedua, lanjutnya, pelaku UMKM akan diberikan pengetahuan terkait pengembangan bisnis lewat penggunaan digital ekonomi. “Seperti bagaimana mengembangkan website mereka sehingga lebih menarik dan bisa menarik lebih banyak pengunjung,” urainya.

Ditanya soal regulasi, Michalak mengungkapkan seiring makin pesatnya perkembangan ekonomi digital (e-conomy), pemerintah dan pelaku usaha perlu duduk bersama untuk membuat regulasi yang bisa mengadopsi kebutuhan pelaku usaha di masa mendatang. Ia menekankan 4 poin dalam regulasi ini, yakni aturan terkait arus data, jaminan data pribadi, keamanan siber, dan kemampuan mengadaptasi perubahan yang semakin cepat terjadi. “Semakin kita mengembangkan ekosistem inovatif di Indonesia, pengusaha juga semakin membutuhkan regulasi terkait kebijakan inovasi digital ini,” ujarnya. (Diah Dewi/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.