Peserta Pasraman Siswa dan Guru Ajeg Bali melakukan meditasi. Sebelumnya mereka mendapat pengarahan dari I Gusti Ketut Suela dan I Nyoman Musna. (BP/wan)

TABANAN, BALIPOST.com – Pasraman siswa dan guru ajeg Bali dimulai Kamis (8/8) di Pasraman Dalem Ketut Lumajang, Samsam, Tabanan. Pada hari pertama 36 peserta diajak malukat ke Pura Beji dan sembahyang bersama. Selanjutnya peserta mengikuti meditasi Bali Usadha.

Guru Ajeg Bali drs. Gusti Ketut Suwela mengungkapkan, pasraman siswa dan guru ajeg Bali sebagai benteng diri khususnya dalam pembinaan mental. Ibarat kambing yang mengejar dedaunan, dia akan sembarangan mematahkan kayu. Nah, jika kayu ini goyah dia akan mudah dimakan kambing. Untuk itu, pasraman diisi meditasi dan yoga guna memperteguh iman. Selain itu, melatih pengendalian diri.

Selama empat hari peserta pasraman menjalani mona brata yakni puasa berbicara pada saat-saat tertentu. Karena salah bicara bisa mendapatkan kematian dan kebaikan. Lidah ini bukan main perannya. Di sinilah perlunya pengendalian diri. Apalagi di zaman demokrasi ini, orang bebas berbicara namun tetap ada aturan yang patut dijalani.

Mantan Kasek SMPN 2 dan guru SMAN 2 Semarapura ini lebih lanjut menyatakan, melakukan meditasi guna terus menggembleng dan perenungan diri. Untuk bisa menggembleng orang lain, kita harus sukses dulu menggembleng diri sendiri. Untuk itu, konsep pasraman ajeg Bali ini perlu dikembangkan ke keluarga, sekolah, dan masyarakat agar Bali ajeg selamanya.

Hal yang sama diungkapkan Guru Ajeg Bali Drs. I Nyoman Musna. Dia mengakui derasnya serangan globalisasi bukan main bahayanya. Hal ini harus dihadapi SDM Bali yang penuh disiplin dan berkarakter. Meditasi dan yoga untuk membangkitkan energi tubuh. Jika iman lemah, fisik akan lemah. Kekuatan batin ini sangat penting, itulah yang disebut energi.

Baca juga:  Usaba Kapat di Pura Penataran Agung Besakih Berjalan Lancar

Guru Ajeg Bali lainnya Drs. Ida Bagus Pawana Suta menegaskan, mengajegkan Bali tak bisa sendiri-sendiri, melainkan dilakukan secara bersama-sama. Ia yakin banyak hal positif di pasraman siswa dan guru ajeg Bali ini yakni mencerdaskan secara emosional, sosial, dan spiritual.

Di bagian lain, Gusti Ketut Suwela memaparkan makna persembahyangan. Mantra persembahyangan yang didengar oleh orang banyak hasilnya sangat kecil. Mantram yang didengar oleh diri sendiri hasilnya sedang. Yang tertinggi atau utama jika mantram dan doa itu dalam hati.

Sembahyang pun ada tiga. Sembah raga yaitu badan fisik ada di tempat suci, namun pikiran di mana-mana. Kedua, sembah rasa dan ketiga sembah dengan hati yakni masuk dalam hati yang memebuat kita nyaman dan senang. Kita merasakan getaran frekuensi palinggih yang ada.

Menurut Ida Bagus Pawana, banyak hasil yang diperoleh selama di pasraman karena ada meditasi dan yoga serta pembentukkan karakter. Ini yang dia katakan peserta diajak bersih-bersih. (Sueca/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.