GIANYAR, BALIPOST.com – I Made Warta seorang warga Desa Taro, Kecamatan Tegallalang berhasil membuat pompa air tanpa listrik. Alat ini pun sangat bermanfaat untuk wilayah Desa Taro yang belum dialiri Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).

Berawal dari kesulitan mencari air karena di Banjar Ked, Desa Taro memang tidak ada aliran PDAM. “Karena saya hanya berpikir jika mencari air menggunakan ember atau sejenisnya, setiap hari juga capek dan tidak kuat. Kalau beli mesin, uang tidak punya,” ucapnya ditemui beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan banjar setempat terdiri dari 250 krama. Rata-rata mereka mencari air di aliran sungai yang ada di timur banjar dengan menggunakan mesin listrik.

Selain itu juga ada yang membeli seharga satu kubik air seharga Rp 2 ribu sampai Rp 5 ribu kalau musim kering atau ketika mesinnya rusak. Karena kendala biaya, Warta pun mencari cara agar air yang ada di tebing belakang rumahnya bisa dinaikkan sampai halaman rumahnya tersebut.

Pria tiga anak itu mengaku awalnya hanya melihat cara kerja mesin pompa yang menggunakan mesin. Kemudian ia pelajari dan memodifikasi mesin tersebut menggunakan pipa. “Saya lihat mesin itu, kemudian saya balikkan saja klepnya dan saya modifikasi menggunakan pipa. Waktu itu airnya lama tidak bisa naik, coba lagi dan saya coba lagi,” terangnya.

Baca juga:  Desa Tukadsumaga Rancang Peningkatan Mutu Air Bersih

Warta pun mengaku sempat mengasingkan diri dan merenung di tegalan miliknya. Lokasinya berada di halaman belakang rumahnya sendiri, sekitar 45 meter turunan tebing.

Tepat di atas tebing itu ia mengaku membuat pondok layaknya kandang sapi, bahkan tanpa listrik. “Sampai akhirnya saya diamkan saja dengan posisi klepnya terbalik. Memang memompa tapi tekanan airnya kecil,” ujarnya.

Setelah sebulan merenung di gubuknya, pompa itu berhasil menaikkan air. Ia pun bisa menikmati air tanpa harus membeli pompa listrik, atau mencari air dengan menggunakan ember untuk keperluan sehari-hari.

Sampai saat ini alatnya itu bisa menaikkan puluhan kubik air tanpa menggunakan listrik. “Sekarang saya sudah pasang tiga pompa di tebing dekat rumah,” katanya.

Diungkapkan, peralatan yang digunakan untuk pompa airnya tersebut tidak rumit. Bahkan saat ditemui, ia menunjukkan bagaimana cara merakit, sampai airnya bisa naik dari dasar tebing.

Sampai saat ini alat itu terus dimodifikasi, hingga bisa mengatur besar kecilnya volume air yang naik. Air dimanfaatkan untuk menyiram kebun hingga pekarangan rumah miliknya.

Ke depan ia pun berencana memperoleh hak paten atas penemuan tersebut. Namun sampai saat ini ia masih terkendala biaya. “Saya juga berharap ada perhatian pemerintah, entah bagaimana kedepannya dengan hasil karya saya ini. Terpenting bisa bermanfaat untuk kepentingan orang banyak,” tandasnya. (Manik Astajaya/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.