Duta Kabupaten Gianyar, sanggar seni Saba Sari menampilkan tari legong pada Pesta Kesenian Bali (PKB) XLI di Taman Budaya, Denpasar, Kamis (27/6). (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Sanggar Seni Saba Sari, Blahbatuh, Gianyar tampil memukau di Kalangan Angsoka, Kamis (27/6). Penonton yang memadati kalangan tetap berada di tempat duduk hingga pagelaran selesai.

Tiga penari Legong dengan kostum khas menjadi fokus perhatian ketika memerankan Raja Sri Jaya Pangus, Putri Cina Kang Ching Wei, dan Dewi Danu dalam pementasan tari Legong Raja Cina.

Tari Legong Raja Cina mengisahkan cinta Raja Bali Sri Jaya Pangus dengan Putri Cina Kang Ching Wei. Pernikahan Jaya Pangus dengan Kang Ching Wie tidak mempunyai keturunan. Maka, Raja Sri Jaya Pangus bersemadi di Gunung Batur, memohon agar diberkati keturunan. Sementara Kang Ching Wie cukup lama menunggu kedatangan sang suami, namun setahun tidak kunjung ke istana.

Kang Ching Wie kemudian berniat untuk mencari Raja ke Gunung Batur. Betapa terkejutnya Kang Ching Wie, ternyata sang suami kawin lagi dengan Dewi Danu.

Terjadilah perang sengit antara Dewi Danu dan Kang Ching Wie, berujung dibakarnya Kang Ching Wie dan Sri Jaya Pangus oleh Dewi Danu. Mendapat kabar bahwa sang raja dan permaisuri wafat, masyarakat Balingkang ingin agar Dewi Danu menghidupkan kembali keduanya.

Baca juga:  Rekonstruksi Arja Klasik Khas Peliatan akan Hadir di PKB XLI

Namun, Dewi Danu tidak bersedia. Sebagai penggantinya, masyarakat diminta untuk membuat perwujudan laki dan perempuan yang kemudian dikenal dengan Barong Landung.

Ketua Sanggar Seni Saba Sari A.A. Ngurah Serama Semadi menyampaikan, dari pertunjukan ini dapat kita pahami bahwa ada salah satu alkulturasi budaya Bali-Cina yang memperkaya budaya Bali, terutama dari segi kajian budaya dan agama. Di bidang seni pertunjukan, kita mewarisi kesenian Barong Landung.

Dalam seni ukir, kita mengenal patra cina. Dari segi agama, kita mewarisi penggunaan uang kepeng untuk yadnya dan upakara.

Lanjut disampaikan, tari Legong Raja Cina ini merupakan tari rekonstruksi karya dirinya tahun 2012. Sementara itu, Desa Saba dikenal sebagai sentral tari Legong. Puri Taman Saba, Blahbatuh, Gianyar berupaya melestarikan tari Legong Saba. “Hampir 90 persen penari dan penabuh berasal dari Puri Taman Saba. Legong merupakan tari klasik. Puri merupakan sentral pelestari Legong. Kami berupaya melestarikan tari klasik ini. Saba punya ikon karena Legong Saba,” ujarnya.

Dalam gelar seni kemarin, sanggar ini juga menampilkan Tabuh Petegak, tari Gabor, tari Legong Lasem dan tari Jauk Manis. (Subrata/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.