Oleh GPB Suka Arjawa

Suasana teduh para politisi yang sedang bersaing kelihatan pada saat pemakaman jenazah Ani Yudhoyono beberapa waktu lalu. Salah satu yang menarik perhatian adalah pertemuan antara Susilo Bambang Yudoyono dengan Megawati Soekarnoputri.

Masyarakat memberi perhatian pada pertemuan dua elit ini, karena keduanya dinilai masih belum akur, meski sesungguhnya keduanya pernah bertemu dan berjabat tangan. Konflik keduanya adalah sisa masa lalu, saat keluarnya SBY dari kabinet dan persaingan kandidasi presiden.

Sehari setelah pemakaman Bu Ani, giliran Prabowo Subianto yang datang ke rumah Susilo Bambang Yudoyono. Kedatangan yang terlambat untuk berbela sungkawa ini disebabkan karena Prabowo masih berada di luar negeri sebelumnya. Keduanya dinilai mempunyai persoalan karena pascapemilu 2019, Partai Demokrat pimpinan Susilo Bambang Yudoyono dipandang mulai bergeser koalisi ke arah koalisinya Joko Widodo.

Terhadap pertemuan dari tokoh-tokoh yang berseberangan tersebut, masyarakat salut, masyarakat sangat mengharapkan hal ini terjadi demi mendinginkan suasana persaingan dalam politik nasional. Indikator dari hal ini terlihat dari respons dan tanggapan warga melalui layar televisi, media massa dan media sosial, termasuk juga ungkapan perbincangan di warung-warung atau di lapangan olahraga.

Sambutan masyarakat ini wajar dan merupakan cerminan dari kekhawatiran masyarakat terhadap konflik politik. Jika kita lihat ke belakang, berbagai konflik politik skala besar yang terjadi di Indonesia diawali oleh persaingan antarelit politik. Kahar Muzakar, DI/TII, Ratu Adil, Gestok, sampai masa tumbangnya rejim Orde Baru, merupakan hasil dari persaingan elit politik.

Pertemuan-pertemuan itu dinilai mampu meneduhkan suasana politik nasional oleh masyarakat. Dari sisi sosiologis, respons positif yang diberikan oleh masyarakat itu, sekali lagi merupakan cerminan dari kerinduan masyarakat akan suasana damai. Seperti yang telah diungkapkan di atas, rasa khawatir itu ada.

Di sini rasa kekhawatiran itu muncul sebagai ungkapan perpaduan dari beberapa hal, yaitu fakta sejarah nasional, kondisi kontemporer negara dan kondisi kontemporer internasional. Empat tahun terakhir merupakan kondisi politik yang tidak kondusif secara nasional. Fenomena kekalahan Ahok, berbagai ujaran negatif di media sosial sampai ketidakpuasan oposan saat keberhasilan Joko Widodo pada periode pertama, merupakan kondisi politik yang tidak kondusif itu.

Pada tingkat internasional, konflik yang diakibatkan oleh persaingan elit tersebut, hampir seluruhnya mengakibatkan gangguan atau kehancuran negara. Ini terlihat misalnya di negara-negara di Timur Tengah. Sampai sekarang Suriah dan Libia masih belum stabil. Bahkan Brexit di Inggris mengganggu jalannya pemerintahan yang membuat perdana menteri Inggris harus mengundurkan diri.

Maka dengan perpaduan antara sejarah konflik di Indonesia, konflik elit yang terjadi sekarang dan dipadu dengan situasi internasional tersebut, sangat wajar kemudian masyarakat kita khawatir. Intinya masyarakat Indonesia menginginkan negara utuh, situasi tenang dan damai. Para elit harus menyadari dan bertindak untuk mencapai hal ini.

Akan tetapi, di balik semua hal yang diuraikan di atas, ada hal lain yang harus diperhatikan betul oleh kita semua. Untuk berbaik-baikan atau rekonsiliasi bagi pihak-pihak yang berkonflik dalam politik, jelas tidak harus menunggu ada peristiwa khusus, semacam wafatnya tokoh nasional.

Rekonsiliasi tersebut adalah sebuah kesadaran, dan dalam politik nasional kesadaran menjadi sebuah keharusan. Pidato dari Hilarry Clinton ketika dikalahkan oleh Donald Trump pada pemilu di Amerika Serikat, menjadi pembelajaran yang sangat bagus untuk membangkitkan kesadaran itu.

Baca juga:  Perlu Dukungan, Indonesia Targetkan 20 Juta Hektar Perairan Masuk Kawasan Konservasi

Orang mungkin sudah tahu bahwa negara Amerika Serikat mempunyai tradisi sportif yang menjadi pendamping setia demokrasi mereka. Pada setiap akhir pemilu, kandidat yang kalah akan mengakui kekalahannya dan mengucapkan selamat kepada pemenang. Dan sebaliknya sang pemenang akan memberikan ucapan terima kasih kepada kompetitor dan masyarakat. Dan persaingan pada akhirnya telah selesai pada saat itu, demokrasi telah berjalan dengan baik dan rakyat kembali bersatu.

Tetapi pada kontestasi pemilihan presiden Amerika Serikat yang terakhir ini suasannya berbeda. Sebagian penduduk bumi tahu atau memandang bahwa kemenangan Trump itu dibantu oleh rekayasa media sosial yang memungkinkan nilai-nilai anutan Trump masuk pada ranah psikologis masyarakat Amerika Serikat.

Ada nuansa rekayasa media-wacana dengan teknologi mutakhir yang memungkinkan Trump menang, yang tidak pernah terjadi sebelumnya pada pemilu di negara tersebut. Tetapi apa yang terjadi pada diri Hillary Clinton setelah kekalahannya itu? Dia menyadari rekayasa tersebut.

Tetapi lebih sadar bahwa tradisi pengakuan kekalahan dan selamat kepada pemenang, jauh lebih berguna untuk mempersatukan rakyat Amerika Serikat. Maka yang menjadi tekanan penting di dalam pidatonya adalah bagaimana ia memandang bahwa masyarakat Amerika Serikat harus kembali bersatu. Ia mengakui bahwa baik dirinya maupun pendukungnya sakit dengan kekalahan tersebut.

Tetapi, tentu saja akan lebih sakit lagi kalau masyarakat terbelah. Tetapi ia harus mengucapkan selamat kepada Trump dan mengakui kekalahannya. Dengan inilah demokrasi, tradisi dan persatuan Amerika Serikat berhasil dipertahankan. Tentu saja mereka juga akan malu secara nasional, sebagai bangsa dan negara kepada masyarakat internasional, jika misalnya rakyat Amerika Serikat terpecah dan terbelah.

Ongkos kekalahan ini akan terlalu mahal apabila dibandingkan dengan sejarah kepemiluan dan demokrasi yang mereka anut. Jadi, masa depanlah yang harus dilihat untuk memenangkan demokrasi sesungguhnya.

Indonesia adalah negara yang sama dengan Amerika Serikat, yaitu negara bangsa di mana terdiri dari berbagai bangsa dengan bentangan luas geografis yang sama. Jika Amerika Serikat merupakan negara yang terdiri dari imigran yang mempunyai kultur yang berbeda, maka Indonesia adalah negara yang mempunyai kultur yang beragam pula.

Karena itu demokrasi menjadi cara untuk mempraktikkan sistem ketatanegaraan. Jika Amerika Serikat malu apabila pecah belah hanya oleh satu pemilu, seharusnya Indonesia juga malu kepada dunia. Di kawasan Asia Timur tidak ada yang menandingi heterogenitas Indonesia. Kecuali Tiongkok, tidak ada negara yang menandingi jumlah penduduk Indonesia. Dan dalam konteks negara yang bermayoritas muslim tetapi yang mempraktikkan sistem demokrasi, tidak ada yang mengalahkan Indonesia.

Maka cukup banyak alasan bagi para elit politisi untuk menghilangkan konfliknya. Rekonsiliasi bisa diciptakan melalui metode apapun, tidak harus menunggu peristiwa atau media besar untuk mendorongnya. Nonton wayang bersama, bahkan sarapan bersama akan dapat menciptakan suasana rekonsiliatif.

Persoalannya adalah adanya kesadaran bagi para elit-elit politik Indonesia yang menjadi penentunya. Maka, setelah hari Raya Lebaran ini kitaa berharap kesadaran  itu muncul sehingga apa yang didambakan masyarakat dapat terwujud.

Penulis, staf pengajar Sosiologi FISIP Universitas Udayana

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.