Vaksinasi masal yang dilakukan Distan Buleleng beberapa waktu lalu. (IBP/mud)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Vaksinasi anjing rabies masal yang digulirkan Dinas Pertanian (Distan) Buleleng telah berakhir. Dari pelaksanaan program pencegahan virus rabies ini, partisipasi masyarakat pemilik anjing di Bali Utara masih kurang. Akibatnya, beberapa desa pencapaian vaksinasi masalnya tergolong rendah. Selain itu, sebagian besar warga masih meliarkan anjing peliharaannya, sehingga petugas vaksinasi kesulitan menangkap.

Data yang dihimpun di lapangan, Selasa (28/5), di sembilan kecamatan di Buleleng anjing yang sudah disuntik Vaksin Anti-Rabies (VAR) sebanyak 76.852 ekor. Padahal populasi anjing di Bali Utara diperkirakan 107.033 ekor, sehingga persentase realsiasi vaksinasi anjing rabies masal di daerah ini 71,72 persen.

Vaksinasi ini juga menyasar hewan penular rabies (HPR) lain seperti kera dan kucing. Dengan hasil ini, sekarang Distan masih melakukan vaksinasi susulan. Beberapa desa yang tingat capaian vaksinasinya rendah kembali disisir agar anjing liar yang tercecer mendapatkan suntikan VAR.

Plt. Kepala Distan Buleleng Made Sumiarta didampingi Kepala Bidang Kesehatan Hewan (Keswan) Drh. Wayan Susila mengatakan, sejak menggulirkan vaksinasi anjing rabies masal, pengendalian hewan peliharaan untuk memudahkan petugas melakukan vaksinasi masih tergolong rendah. Ini dibuktikan banyaknya anjing yang sengaja diliarkan tanpa ada tanggung jawab untuk memberi pakan dan memelihara kesehatannya.

Baca juga:  Serapan Pembangunan Fisik di Jembrana Masih Rendah

Prilaku kurang baik juga ditemukan yaitu warga sering membuang anak anjing di suatu tempat. Secara langsung, anak anjing itu akan tumbuh dan hidup liar. Fakta ini mengakibatkan populasi anjing liar terus bertambah. Tidak itu saja, penyebab cakupan vaksinasi rabies masal di beberapa desa di Buleleng juga disebabkan adanya beberapa oknum masyarakat yang justru menolak anjingnya divaksin.

Dari penelusuran petugas vaksin, beberapa oknum masyarakat itu berdalih tidak ingin hewan peliharaannya divaksin dengan alasan tidak jelas. “Karena menyangkut prilaku, jadi sangat sulit mengubah kebiasaan itu. Sebelum pelaksanaan sosialsiasi dalam berbagai kegiatan sudah kami lakukan, tapi hasilnya belum juga optimal,” katanya.

Menurut Sumiarta, program vaksinasi masal memang sudah dihentikan, namun petugas vaksin masih dikerahkan di lapangan melakukan vaksinasi susulan. Hasilnya, sebanyak 1.913 ekor anjing divaksin. Jumlah ini dipastikan bertambah karena petugas terus menyisir desa dan kelurahan di Bali Utara yang masih ditemukan anjing belum divaksin. (Mudiarta/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.