Nyeri di dada
Ilustrasi. (BP/ist)

Oleh drg. Dedhi Wibawa, S.Perio.

Teknologi dan globalisasi berkembang begitu pesat di seluruh wilayah Indonesia, tak terkecuali di Bali. Sejak tahun 1970-an, sektor ekonomi dan sosial masyarakat Bali berkembang dari agraris menjadi pariwisata. Yang lama-kelamaan tak hanya budaya, perilaku masyarakat pun mengalami akulturasi. Meski tak mengubah ciri khasnya, gaya hidup masyarakat Bali ikut bergeser.

Lalu, hal apa saja yang perubahannya tak terhindarkan? Misalnya, gaya hidup yang kurang sehat, yang akhirnya mendorong peningkatan jumlah penyakit di Bali termasuk yang tidak menular seperti stroke, jantung, kanker, dan diabetes. Menurut Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan, perilaku hidup bersih dan sehat yang belum optimal ditengarai menjadi salah satu penyebab utama peningkatan penyakit tidak menular tersebut.

Peningkatan tren penyakit tidak menular sebenarnya tidak hanya terjadi di Bali, tetapi juga menimpa daerah lain. Riset Kesehatan Dasar 2018 Kementerian Kesehatan mencatat tren penyakit tidak menular yang disebabkan gaya hidup naik dibandingkan data 2013.

Diabetes melitus, hipertensi, dan obesitas adalah tiga penyakit tidak menular yang terus meningkat. Jumlah penderita diabetes melitus masyarakat usia di atas 15 tahun pada 2018 tercatat 10,9 persen, lebih tinggi dibandingkan 2013 sebanyak 6,9 persen. Hipertensi dari hasil pengukuran masyarakat usia di atas 18 tahun juga menyentuh 34,1 persen, naik dari 25,8 persen. Sementara obesitas pada usia di atas 15 tahun mencapai 31 persen, melonjak dari sebelumnya 26,6 persen.

Di antara gaya hidup yang kurang sehat tersebut antara lain aktivitas merokok, konsumsi minuman keras, dan minimnya aktivitas fisik. Sejatinya, ada banyak upaya yang telah dilakukan pemerintah Bali untuk mengurangi penyakit tidak menular.

Berbagai sosialisasi, kampanye hidup sehat, hingga perluasan jangkauan Jaminan Kesehatan Nasional melalui program Krama Bali Sejahtera telah dilakukan pemerintah Bali. Sayangnya, berbagai upaya tersebut belum optimal menahan peningkatan penyakit tidak menular.

Melihat tren gaya hidup masyarakat Bali yang ada saat ini sepertinya diperlukan sokongan pendekatan yang lebih progresif dan persuasif. Berbagai pendekatan persuasif tersebut sudah dilakukan oleh berbagai negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris, Jerman, dan Jepang.

Mereka mulai menawarkan pendekatan yang “tidak biasa’’. Alih-alih memperketat aturan yang berpotensi memunculkan kontroversi, mereka memilih pendekatan pengurangan risiko atau bahaya dalam mengatasi masalah penyakit tidak menular, salah satunya yang diakibatkan oleh aktivitas merokok. Seperti yang diketahui, menghentikan secara mendadak ketergantungan pada rokok bukan perkara yang mudah.

Pengurangan risiko adalah strategi ilmu kesehatan masyarakat yang bertujuan mengurangi konsekuensi negatif dari sebuah produk atau perilaku. Lewat pendekatan ini, masyarakat disuguhkan produk tembakau alternatif yang lebih rendah risiko kesehatannya. Rokok elektrik dan produk tembakau yang dipanaskan bukan dibakar (heat-not-burn) adalah beberapa contoh produk tembakau alternatif yang dapat dipakai sebagai sarana menerapkan konsep pengurangan risiko.

Baca juga:  Astra Motor Bali Siap Bersinergi Jaga Keajegan Bali

Sudah banyak penelitian di berbagai negara maju yang menyebutkan efektivitas konsep pengurangan risiko dan pemakaian produk tembakau alternatif dalam menekan risiko kesehatan masyarakat. Di Indonesia, penelitian akan hal ini masih minim.

Salah satu penelitian lokal yang menarik telah dilakukan oleh Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP) pada periode Maret – Mei 2017. Penelitian ini menyatakan pengguna produk tembakau alternatif berpotensi memiliki risiko kesehatan dua kali lebih rendah dibandingkan perokok konvensional. Hasil penelitian ini dikemukakan dalam ajang ilmiah nasional di bidang pengendalian tembakau The 5th Indonesian Conference on Tobacco or Health (ICTOH) 2018.

Penelitian bertujuan mengetahui perubahan sel yang diperiksa dari cuplikan sel yang melapisi permukaan pipi bagian dalam pada rongga mulut. Sampel sel diambil dari ketiga kelompok utama yaitu perokok aktif, pengguna rokok elektrik, dan non-perokok. Hasilnya, perokok aktif memiliki jumlah inti sel kecil (micronuclei) dalam kategori tinggi, yakni sebanyak 147,1. Sementara pengguna produk tembakau alternatif dan non-perokok masuk dalam kategori normal, yakni berkisar 70-80. Dengan kata lain, jumlah inti sel kecil pengguna rokok elektrik hampir sama dengan non-perokok dan dua kali lebih rendah dari perokok aktif.

Banyaknya jumlah inti sel kecil merupakan tanda bahwa telah terjadi pembelahan sel tidak sempurna atau sel tidak normal. Dalam kondisi normal, sel-sel yang terdapat dalam rongga mulut akan terus membelah dan memperbaiki diri.

Kacaunya jumlah inti sel kecil dalam rongga mulut perokok disebabkan oleh TAR dari pembakaran rokok. TAR adalah zat paling berbahaya dari sekitar 4.000 senyawa yang terkandung dalam rokok. Penelitian ini sekaligus memupus anggapan bahwa nikotin adalah zat paling berbahaya dalam rokok. TAR turut membuat pembelahan sel menjadi tidak sempurna. Semakin banyak inti sel kecil yang tumbuh maka semakin besar potensi risiko mengidap penyakit kanker rongga mulut.

Asian Pacific Journal of Cancer Prevention tahun 2013 mencatat kanker rongga mulut merupakan salah satu dari enam kanker ganas yang paling sering timbul di Asia. Terdapat hampir 274.300 kasus baru dari kanker ini muncul setiap tahunnya dan sebagian besar kanker rongga mulut disebabkan oleh rokok.

Menilik fakta ini, rasanya akan tepat jika seluruh pemangku kepentingan turut mengadopsi konsep pengurangan risiko kesehatan sebagai salah satu solusi jangka panjang untuk merespons tren peningkatan penyakit tidak menular. Konsep pengurangan risiko yang dipadukan dengan edukasi dan Program Krama Bali Sejahtera akan menjadi pilihan paket kebijakan kesehatan masyarakat yang harmonis guna mengurangi penyakit tidak menular di Bali.

Penulis, lulusan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Mahasaraswati Denpasar

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.