Wisatawan berjalan-jalan di kawasan Ubud, Gianyar. (BP/nik)

Oleh K. Swabawa, CHA.

Bali dengan segala identitas yang dimiliki merupakan refleksi kemuliaan terhadap jati diri yang murni. Suatu penghormatan pada alam, budaya, dan seni. Untuk itu dibutuhkan upaya penataan dan pengelolaan yang mempertimbangkan cultural centric; berpegangan, berlandaskan dan memperhatikan potensi dan dampaknya pada budaya. Industri pariwisata sebagai sektor industri unggulan yang dimiliki Bali dan juga Indonesia didominasi dengan aktivitas dengan memberdayakan potensi alam, budaya dan seni yang keberadaannya dapat terancam terkait kelestarian, kemurnian dan juga nilai yang mesti terkandung di dalamnya.

Bagai buah simalakama; dengan kondisi seperti uraian di atas maka pariwisata dapat membawa keuntungan yang multidimensi dan juga mengancam keberlangsungan alam dan tatanan hidup bermasyarakat. Ini harus diakui secara jujur bersama-sama, sehingga mampu mengarahkan pola pikir kita selanjutnya, ‘’apa yang harus kita lakukan agar dampak negatif di masa depan itu dapat dikurangi dan bahkan dihindari?’’

Era revolusi industri 4.0 dengan segala alur dan entitasnya tidak dapat dibendung, secara langsung dan tidak langsung mengubah perilaku dan gaya hidup manusia. Pemanfaatan teknologi informasi diarahkan pada teknik penelitian yang lebih terstruktur dan fokus pada anti mainstream, misalnya adalah bagaimana caranya agar Bali tidak bertransformasi secara masif menuju modernisasi secara makro, tetapi agar dapat berada pada tatanan think globally, act locally, berpikir secara luas dan makro namun tetap bertindak memperhatikan nilai budaya, kearifan lokal serta menjunjung sikap spiritualisme.

Proses era 4.0 tentu membawa dampak terhadap perilaku masyarakat dan tidak terbatas oleh usia. Globalisasi membawa dampak positif dan negatif yang berujung pada perilaku masyarakat, sehingga kita harus cerdas memilih dampak yang ditimbulkan agar terhindar dari perilaku buruk. Perubahan perilaku terbesar yang terjadi pada masyarakat di antaranya pada nilai-nilai dan gaya hidup. Saat ini telah terjadi pergeseran nilai-nilai kehidupan yang telah lama diwariskan oleh leluhur kita. Rasa kekeluargaan dan gotong royong akhir-akhir ini mulai memudar. Masyarakat cenderung hidup individualistis, terlebih di kota-kota besar.

Dari uraian pemikiran tersebut, langkah yang tepat telah digulirkan oleh Pemerintah Provinsi Bali melalui pergub yang mengatur tentang penggunaan pakaian adat Bali dan penggunaan aksara Bali sebagai penyadaran dan penguatan terhadap pelestarian budaya dan nilai-nilai luhur daerah. Bukan hanya itu, kita juga harus menyadari bahwa turis datang ke Bali adalah untuk melihat Bali itu sendiri.

Sebagaimana teori dalam ilmu pemasaran bahwa langkah pertama yang harus dilakukan sebelum membuat dan bahkan menjual produk adalah mengidentifikasi kebutuhan pembeli/pelanggan (to identify customer need), maka relevansi antara menampilkan budaya Bali dengan tujuan turis (sebagai sasaran konsumen pariwisata Bali) untuk datang ke Bali adalah sangat tepat. Artinya, pebisnis juga akan lebih mudah dalam menempatkan produknya dan mendapatkan manfaat sesuai tujuan membangun bisnis di industri pariwisata.

Baca juga:  Gempa Berpusat di Lombok, 6 rumah di Pagayaman Rusak Berat

Adalah sangat keliru besar bahwa selama ini beredar opini dari segelintir orang bahwa pemberlakuan peraturan penggunaan pakaian adat Bali berbenturan dengan upaya penguatan corporate identity di perusahaan (khususnya swasta). Bahkan sebaliknya, kita patut mengawasi pihak-pihak ini mengapa mereka terlalu reaktif dan menghalangi upaya pelestarian budaya Bali di tempat usahanya yang berlokasi di Bali.

Selanjutnya alam yang terbentuk secara alami turut menjadi pendukung utama untuk keberlangsungan pariwisata Bali ke depannya. Sebagaimana pergub yang telah disosialisasikan mengenai upaya pengurangan sampah plastik melalui pengurangan penggunaan barang dan peralatan berbahan plastik sekali pakai, harus disikapi secara positif untuk mengurangi kerusakan alam yang terjadi secara perlahan-lahan dan terus-menerus akibat rusaknya struktur dan kondisi tanah akibat bahan plastik.

Barang plastik sekali pakai yang hanya digunakan beberapa menit atau jam membutuhkan ratusan ribu tahun untuk terdegradasi. Dengan timbunan yang semakin banyak dalam kurun waktu tertentu, kemungkinan Bali akan menjadi pulau plastik pada sekian tahun ke depan. Lalu bagaimana nasib pariwisata nantinya? Di mana masyarakat Bali akan mendapatkan sumber pendapatan jika pariwisata tidak memadai dan tidak layak untuk dikunjungi?

Jadi, kembali ke dampak revolusi industri 4.0 dengan derasnya arus disrupsi dan canggihnya teknologi yang berevolusi semakin cepat dalam hitungan hari dan detik, manusia harus meningkatkan kecerdasan intelektualitasnya bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan individualitasnya, namun berpandangan jauh ke depan menuju kualitas hidup yang berkelanjutan.

Hal terkait disrupsi agar disikapi dengan keteguhan komitmen untuk menjaga Bali, jangan tergerus pada arus perubahan tanpa kendali yang mungkin dapat berdampak pada kerusakan alam, seni dan budaya. Sistem pembelajaran dan pendidikan pada lembaga terkait agar lebih menekankan pada character building, adaptivity dan creativity, sehingga fenomena V.U.C.A bukanlah sebuah mimpi buruk namun sebagai upaya pijakan fundamental untuk selalu dapat keluar dari segala masalah.

Demikian pula kemajuan teknologi di segala bidang agar mampu dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemajuan pariwisata yang tetap berlandaskan budaya dalam konsep pembangunan ekonomi kerakyatan yang berkualitas dan berkelanjutan. Mari bersama-sama kembali ke jati diri sebagai masyarakat Bali untuk membangun dan menata pola pembangunan daerah Bali agar tetap lestari dan berkelanjutan.

Penulis, praktisi dan akademisi kepariwisataan

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.