IB Oka Gunastawa bersama Ketua DPD masing-masing kabupaten di Bali melakukan simulasi pencoblosan Capres dan Cawapres nomor urut 1. (BP/may)

KURANG dari tiga pekan masyarakat akan menyambut pelaksanaan pemilihan legislatif (pileg) dan pemilihan presiden-wakil presiden (pilpres) tahun 2019. Dengan sisa waktu yang singkat, beberapa hal masih menjadi pekerjaan rumah penyelenggara dan kontestan pemilihan umum (pemilu) 17 April 2019.

Salah satu yang krusial adalah potensi golongan putih (golput) yang diperkirakan signifikan. Bahkan menyikapi itu, pemerintah berencana menjerat oknum yang sengaja mengajak masyarakat melakukan golput alias tidak menggunakan hak pilih dalam pemilu.

Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Nasdem Bali Ida Bagus Oka Gunastawa mengakui golput menjadi tantangan besar dalam menyukseskan pesta demokrasi lima tahunan ini. “Kita memang pertama mengajak masyarakat dengan sebaik-baiknya, bahkan tidak hanya mengupayakan untuk meminimalisir golput, kami juga mengupayakan untuk bagaimana menggelorakan saksi semesta. Dan itu artinya masyarakat untuk bisa tetap bertahan di TPS sampai pada penghitungan. Berarti ya mereka melakukan pilihan tidak hanya pilpres, tetapi mereka juga coblos para calon-calon anggota legislatif,” katanya kepada wartawan disela-sela Rapat Koordinasi Pengurus dan Caleg Partai Nasdem se-Bali, di Hotel Nikki, Denpasar, Selasa (2/4).

Pola ‘saksi semesta’ dikatakan Gus Oka efektif untuk meminimalisasi blocking area oleh salah satu partai politik atau calon anggota legislatif (caleg). “Termasuk dengan segala upaya, karena dalam saksi semesta ini kan konsepnya mereka tidak berurusan dengan atau berhadapan secara fisik, tetapi mereka menggunakan teknologi untuk mengintimidasi TPS-TPS itu untuk bisa berlaku jujur. Karena apa? Ya videokan, share langsung detik itu atau siaran langsung, saya kira itu berarti teknologi sudah bisa kita manfaatkan dengan baik. Gunakan teknologi untuk kebenaran, itu tagline yang kita punya dalam konteks saksi semesta,” tegasnya.

Caleg DPR RI Dapil Bali dari Partai Nasdem nomor urut 1 ini mengatakan, blocking area oleh parpol atau caleg dapat terjadi dimanapun. Kondisi itu menurutnya didukung oleh kultur politik masyarakat sekitar. Namun untuk Bali ia yakin, pemilih memiliki pemahaman politik yang dewasa, dan matang.

“Potensi itu bisa terjadi dimana saja, tergantung daripada situasional terakhir. Tetapi untuk Bali kami optimis, kami masih memiliki satu kondisi yang kondusif sampai hari ini, semoga saja masih tetap terjaga sampai tanggal 17 April 2019,” tutupnya. (Citta Maya/Balipost)

 

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.