TABANAN, BALIPOST.com – Marga adalah salah satu kecamatan di Tabanan yang memiliki banyak perajin ukir. Salah satu kerajinan ukir yang sangat diminati, tidak hanya di Bali tetapi luar Bali adalah kerajinan ukir pintu Gebyog.

Meski banyak peminat, ditakutkan kerajinan ini pada khususnya dan kerajinan ukir pada umumnya akan semakin jarang ditemui. Sebab, semakin menurunnya minat generasi muda untuk menekuni seni ukir.

Salah satu pemilik usaha kerajinan ukir di Desa Batannyuh, Marga, I Nyoman Triana, mengatakan pintu gebyog khas Bali tidak hanya laris di Bali saja. Melainkan juga kerap dipesan oleh konsumen dari Jawa, Kalimantan dan Sulawesi.

Bahkan usaha kerajinan ukir ini sempat dipesan oleh warga asal Jerman untuk dipasang di sana. Namun sayangnya, seiring waktu berjalan generasi pengukir khususnya di Desa Batannyuh sudah mulai berkurang. “Saat ini justru sulit mencari regenerasi pengukir. Mungkin karena generasi mudah sudah kurang tertarik untuk mengambil pekerjaan ini dan lebih banyak lari ke bidang pariwisata,” ujarnya.

Padahal, potensi kerajinan ukir seperti pintu Gebyog ini untuk menjadi salah satu komoditi ekspor cukup besar. Ini terbukti dari pihaknya yang mendapatkan pesanan langsung dari Jerman. “Langsung dibayar dengan Euro dan kami mengirim ke Jerman. Pembeli ini memang suka dengan kerajinan ukir Bali,” tuturnya.

Triana menceritakan usaha ukir ini ia rintis sendiri sejak 1996 silam. Ia sendiri sudah menjadi pengukir sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). “Dari kemampuan ini saya memberanikan membuat usaha. Lambat laun saya punya karyawan. Tahun 2011 karyawannya mencapai puluhan,” ujarnya.

Baca juga:  Jelang Nyepi, Perajin Ogoh-ogoh Banjir Order

Dalam kerajinan ukir ini, ia lebih banyak mendapat pesanan untuk menggarap pintu gebyog Bali atau pintu yang kerap digunakan pada bale dangin. Selain itu, juga menggarap bale gede, bale gong dan lain sebagainya sesuai dengan pesanan konsumen.

Pengerjaan satu pintu gebyog memakan waktu sekitar 4-5 hari tergantung dari ukuran dan tingkat kerumitan dari ukiran itu sendiri. Harga kerajinan ini juga ditentukan sesuai dengan model yang diinginkan dan tingkat kerumitan, serta bahan baku yang digunakan.

Rata-rata harga untuk pintu gebyog bali berkisar Rp 20-30 Juta ke atas bahkan sampai Rp 50 Juta.Ia melanjutkan, biasanya konsumen yang hendak memesan pintu gebyog langsung memilih gambar ukiran yang sudah disediakan.

Ia pun mengaku kewalahan dengan tingginya pemesanan pintu gebyog. “Dalam memenuhi permintaan lokal sudah kewalahan karena banyaknya permintaan,” ujar Triana.

Di tengah tingginya permintaan, lanjut Triana, generasi pengukir khususnya di Desa Batannyuh sudah mulai berkurang. Saat ini justru sulit mencari generasi pengukir.

Meski demikian, pihaknya tidak berkecil hati dan optimis bisa mempertahankan dan melestarikan kerajinan ukir Bali. “Tentu untuk bertahan dan maju harus selalu berinovasi,” ujarnya.

Ia berharap dengan usahanya ini akan menarik minat generasi muda untuk menekuni kerajinan ukir. (Wira Sanjiwani/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.