Proses pembuatan pakan Lele atau Pelet di Kelompok Mina Sari Amerta II. (BP/bit)

TABANAN, BALIPOST.com – Salah satu beban pembudidaya ikan terutama ikan lele adalah memenuhi pakan dimana harganya naik mengikuti harga Dollar. Alasan kenaikan ini karena beberapa bahan bakunya harus impor. Untuk itu Pemerintah Pusat memberikan bantuan mesin pembuat pakan pelet kepada Kelompok Mina Sari Amerta II, Denbantas, Tabanan. Bahan bakunya pun dipenuhi dari pasar lokal sehingga harganya bisa jauh lebih murah dibandingkan pakan pabrikan. Sayangnya, dalam produksi pakan ikan Lele yang biasa disebut pelet ini masih terkendala cetakan pakan dan sinar matahari.

Ketua Kelompok Mina Sari Amerta II, Putu Suteja, Jumat (1/2) mengatakan kelompok yang ia ketuai, saat ini sedang membutuhkan banyak pakan karena masuk dalam fase pembesaran lele. “Kelompok kami selain pembesaran juga melakukan pembibitan lele. Sekarang masuk dalam fase pembesaran jadi butuh pakan yang banyak,” jelasnya.

Mesin yang merupakan bantuan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terdiri dari  penggilingan bahan, penepung bahan dan pencetak pelet ini memiliki daya dan kapasitas yang besar. Namun kelompok Mina Sari Amerta II hanya memproduksi pakan saat dibutuhkan saja.

“Sekarang sangat dibutuhkan. Jadi per hari bisa produksi satu kuintal. Sayangnya sinar matahari saat ini jadi kendala,” ujar Suteja.

Disamping kendala sinar matahari, kelompok juga mengalami masalah terhadap mesin pencetak pelet. Menurut Suteja, alat pencetak peletnya ini membentuk pakan pelet yang tenggelam dan bukan mengambang. Karena tenggelam, pihak tidak mampu menghitung secara tepat berapa kebutuhan pakan ikan. Sebab, setiap diberikan pakan tersebut akan langsung tenggelam dan mengendap di dasar kolam. Berbeda halnya jika mengambang, pihaknya akan tahu seberapa pakan yang habis sehingga bisa dilakukan perhitungan secara tepat.

Sayangnya, karena mesin tersebut bantuan Pemerintah dan ada perjanjian untuk tidak merubah komposisi mesin, pihaknya tidak bisa melakukan modifikasi. Padahal menurut Suteja, pihaknya berkeinginan dan mampu melakukan modifikasi untuk alat pencetaknya sehingga bisa menghasilkan pakan dengan tipe mengambang. “Kalau diijinkan, kami sebenarnya ingin memodifikasi alat cetak ini,” ujarnya.

Baca juga:  Mesin Pembuat Pakan Ikan Milik Dinas PKP Mubazir

Untuk bahan baku kata Suteja sudah mampu dipenuhi secara lokal. Adapun bahan utama dalam pembuatan pakan pelet adalah tepung ikan, dedak padi, ampok (dedak gandum), tepung jagung, tepung tapioka, mineral dan vitamin. Yang paling susah didapat pada awalnya adalah tepung ikan. Namun sekarang Kelompok Mina Sari Amerta II sudah mendapatkan  tempat pemesanan di Pengambengan Jembrana serta bahan baku lainnya bisa didapatkan di toko pakan.

Dengan membuat produksi pakan sendiri tentu harga yang dikeluarkan menjadi lebih murah dibandingkan membeli pakan produksi pabrik yang harganya terus meningkat. Saat ini harga paķan pabrik mencapai Rp 12.000 per kilogram. Sementara untuk pakan yang diproduksi Kelompok Mina Sari Amerta II seharga Rp 8000 per kilogram. “Kami juga melayani pemesanan untuk kelompol lain. Dijualnya Rp 8000 perkilogram,” ujarnya.

Saat ini harga jual Lele adalah Rp 18.000 perkilogram. Untuk bisa mencapai satu kilogram, memerlukan satu kilogran pakan. Jadi jika mengikuti harga pakan pabrik, pembudidaya ikan lele hanya mendapatkan keuntungan kotor Rp 6000 perkilogramnya. “Belum lagi potong obat-obatan dan tenaga kerja,” ujar Suteja.

Karenanya Suteja mengajak pembudidaya ikan lele di Tabanan untuk mandiri agar bisa mendapatkan keuntungan. Tidak hanya memakai pakan produksi lokal, tetapi juga belajar untuk membuat obat-obatan sendiri dan menyediakan benih sendiri. “Kalau mau sukses harus mandiri. Apalagi ternak lele seberapapun hasilnya, pasti terserap. Sebab kebutuhannya besar,” jelasnya. (wira sanjiwani/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.