Ilustrasi. (BP/istimewa)

Selama ini, kita terlalu sering meributkan berita bohong atau hoax. Berita yang diproduksi tanpa data, rasa, dan fakta ini merupakan hasil rekayasa dan cenderung menyesatkan.

Mengonsumsi berita sesat alias bohong jelas berdampak buruk pada pembentukan logika dan pilihan perilaku manusia. Kecenderungan yang terjadi, jika berita bohong tak segera dijernihkan adalah munculnya penyikapan keliru atas sebuah informasi.

Ini jelas berbahaya bagi pembentukan karakter pribadi, karakter bangsa, dan perilaku personal. Untuk itulah, kita sangat mendukung dan sangat setuju jika penyebar berita bohong dipidanakan.

Sebagai sebuah hasil proses  berpikir, berita bohong jelas lahir dari kepentingan dan niat yang cenderung jahat dan manipulatif. Niat jahat ini mungkin juga didasari pola pikir yang naif dan dendam. Sering kali berita bohong juga diluncurkan untuk mendiskreditkan orang demi kepentingan kelompok atau ambisi politik.

Jika ini dasarnya, maka produk-produk berita bohong semestinya segera dieliminasi oleh lembaga teknis yang membidangi ini. Tentu masalahnya tak cukup dengan memenjarakan pembuatnya. Hal yang lebih mendasar yang harus dirujuk selain langkah hukum adalah membangun budaya berkomunikasi yang sehat dan dinamis.

Berkomunikasi secara sehat tentu dalam upaya pembentukan karakter dan perilaku yang mencerminkan etika dan peradaban bangsa. Bangsa yang mengaku sarat toleransi dan menghargai kemajemukan ini tentu harus mengedepankan etika dan kesopaan dalam menjabarkan kehidupan berdemokrasi. Ambisi tak bisa dipersonakan dengan perilaku buruk terlebih meracuni pikiran orang dengan informasi sesat.

Untuk itulah, sangatlah penting bagi kita untuk membiasakan diri bicara jujur. Bicara yang didasari data, fakta, dan diolah dengan pikiran jernih. Muara dari kebiasaan ini diharapkan membangun peradaban yang dinamis, harmonis dan membuat kita nyaman dalam mengelola  produk–produk pikiran.

Baca juga:  Tangkal Hoaks, Menkominfo Segera Rancang Mekanisme Denda

Selama ini, kecenderungan kita tak berani tegas terhadap penyebar kebohongan. Ini membuat banyak pihak melakukan upaya peniruan. Mereka mencoba–coba merekayasa fakta untuk kepentingan personal dan pencitraan diri. Jika ketegasan dalam menindak kejahatan dalam berkomunikasi tak dilakukan, maka upaya membangun budaya biasa bicara kebenaran akan sangat sulit. Untuk itulah sangatlah penting jika budaya bicara kebenaran dilakukan sejak dini.

Dalam membangun budaya ini tentu tak mutlak menjadi tanggung jawab lembaga pendidikan formal. Lembaga-lembaga pendidikan  hendaknya mengajak dan mengedukasi siswanya sejak dini untuk bicara kejujuran.

Hal ini tidaklah sulit dilakukan mengingat ketika sejak dini hal ini dilakukan maka karakter anak akan terbentuk. Lembaga pendidikan formal tentu punya metode dan pola yang jelas dalam hal ini. Mengajarkan anak bicara kejujuran dan kebenaran akan menjdi fondasi peradaban bangsa yang beretika dan adiluhung.

Selain lembaga pendidikan formal, lingkungan sekolah dan orang tua siswa juga memiliki peran strategis. Orang tua jangan sampai lalai mengawasi anak-anak mereka. Cermati lingkungan dan peragulan anak.

Orang tua tentu harus punya waktu untuk mengingatkan dua dikotomi dasar yakni benar salah, patut dan tidak patut, serta pentingnya berkata kebenaran bukan kebohongan. Norma dan nilai–nilai kepatutan  hendaknya menjadi  identitas komunikasi keluarga untuk menuju budaya terbiasa bicara kebenaran. Jika ini dibudayakan, mentalitas positif akan terbangun, sehingga dengan cara ini kebohongan tak akan mendapat ruang. Mari,  bangun peradaban bangsa ini dengan bicara kebenaran.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.