JAKARTA, BALIPOST.com – Berdasarkan hasil riset, prevalensi stunting balita sudah mengalami penurunan dari 37,2 persen pada 2013 lalu menjadi 30,8 persen. Meski begitu pemerintah terus melakukan penanggulangan, salah satunya pembinaan keluarga.

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) yang bertanggung jawab dalam mengembangkan kapabilitas dan kapasitas keluarga dalam membangun kehidupan yang sehat dan berkualitas bersama Institut Pertanian Bogor memperkenalkan program Akademi Keluarga Hebat Indonesia.

Menurut Deputi Keluarga Sejahtera-Pembangunan Keluarga BKKBN, M Yani saat membuka Wisuda Akademi Keluarga Hebat Indonesia Kelas 1.000 HPK Angkatan Pertama Tahun 2018, program ini untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan orangtua yang memiliki balita dan anak melalui Kelas 1.000 Hari Pertama Kehidupan (Kelas 1000 HPK). Kegiatan ini ditujukan kepada orangtua dan keluarga baduta (bawah dua tahun) yang membahas penguatan nilai-nilai untuk diterapkan dalam keluarga.

Pelaksanaannya dilaksanakan di Desa Cibatok 2 Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Desa tersebut merupakan salah satu desa dari 100 kabupaten/kota prioritas dalam penanganan stunting tahun 2018 yang ditetapkan oleh Bappenas, TNP2K, PMK dan instansi terkait lainnya.

Baca juga:  Sempat Kejang Kemudian Mati Suri, Balita Ciltabi Kini Alami Hydrocephalus

“Setelah kegiatan ini berlangsung diharapkan edukasi mengenai pengasuhan menjadi cara terbaik untuk membekali para orangtua agar memiliki kemampuan mengasuh dan membina anak dengan baik demi mencapai tumbuh kembang anak yang optimal,” ujarnya.

Untuk mengatasi dan mencegah terjadinya stunting pada balita, diperlukannya pengasuhan yang baik pada 1000 Hari Pertama Kehidupan. Karena pondasi utama kehidupan manusia di masa depan dapat dipengaruhi oleh pengasuhan pada 1000 Hari Pertama Kehidupan tersebut, yang dimulai sejak awal konsepsi atau selama 270 hari masa kehamilan serta 730 hari setelah lahir (hingga anak berusia 2 tahun). “Peranan keluarga sebagai wahana utama dalam memberikan pengasuhan kepada anak, berperan penting untuk membangun karakter bangsa yang mulia. Keluarga dituntut mampu menciptakan lingkungan belajar yang positif. Bermula dari keluarga, anak akan membentuk karakternya,” jelasnya. (kmb/balitv)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.