Pengelohan sampah organik menjadi pupuk di TPS3R , Desa Bantas, Selemadeg Timur. (BP/san)

TABANAN, BALIPOST.com – Berawal dari banyak ditemukannya TPS (tempat pembuangan sampah) illegal  di Desa Bantas, Selemadeg Timur, sehingga membuat lingkungan terlihat kotor dan tidak bersih, tercetus pembentukan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Bantas Lestari yang mengelola TPS 3R pada tahun 2017 lalu. Selama setahun KSM Bantas Lestari terbentuk, pengelolaan sampah yang dilakukan sudah terpadu mulai dari mengelola sampah hingga mengolahnya menjadi pupuk organik dan kerajinan.

Ketua KSM  Bantas Lestari, Ni Nyoman Sarasmini, Minggu (11/11) memaparkan sebagian besar pengurus KSM Bantas Lestari adalah ibu-ibu PKK ditambah perwakilan masing-masing banjar yang ada di Desa Bantas. Pihaknya terketuk membentuk TPS 3R (Tempat Pembuangan Sampah, Reuse, Reduce, Recycling) di desa Bantas ketika melihat banyak TPS illegal yang muncul dipinggir jalan. ‘’Masyarakat masih membuang sampahnya sembarangan karena belum memiliki TPS sehingga  muncul TPS-TPS illegal,’’ ujarnya.

Lewat proses yang panjang, KSM Bantas Lestari kemudian terbentuk.  Langkah awal yang dilakukan adalah memungut sampah ke rumah-rumah. Saat ini KSM Bantas Lestari sudah melayani 350 KK di Desa Bantas dari jumlah 900 KK yang ada. Untuk memungut sampah ini, KSM Bantas Lestari dilengkapi dengan  pick up dan satu motor pengangkut sampah. Dalam sehari rata-rata sampah yang diangkut sebanyak dua picuk up plus satu motor pengangkut sampah.  Setiap bulan, langganan pengangkutan sampah ini dikenakan biaya Rp 10.000.

Diakui Sarasmini, masih banyak warga di Desa Bantas yang belum mengikuti program pengangkutan sampah dari KSM  Bantas Lestari. Hal ini dikarenakan belum ada aturan yang mewajibkan dan sebagian besar warga masih  memilih untuk membuang sampahnya di tegalan masing-masing. ‘’Kedepan, akan dibuatkan perdes ataupun awig-awig mengenai hal ini,’’ papar Sarasmini.

Baca juga:  Balai Besar BPPP Kembangkan Biosilika di Denpasar

Pengolahan sampah di TPS 3R yang dikelola KSM Bantas Lestari sudah dilakukan secara terpadu meski usianya belum lama. Keberhasilan ini menyebabkan banyak yang belajar cara pengolahan sampah di KSM Bantas Lestari. Adapun program yang sudah berjalan baik adalah mengajarkan masyarakat untuk memilah sampah ditingkat rumah tangga. Saat ini sudah sekitar 30 persen pelanggan mau memilah sampahnya dan hanya membuang residu dan sampah anorganik reject ke TPS 3R. Diharapkan lewat sosialiasi yang rutin digelar setiap bulannya, prosentase ini akan semakin meningkat.

Selain mengolah sampah organik menjadi pupuk, KSM Bantas Lestari juga mengelola bank sampah yang membeli sampah plastik dari masyarakat. Uang dari pembelian sampah ini biasanya ditabung oleh masyarakat di tabungan bank sampah dan dijadikan sebagai pembayaran iuran pengangkutan sampah setiap bulannya.

KSM Bantas Lestari juga sudah mengelola sampah anorganik menjadi kerajinan. Salah satunya membuat keben ataupun bokor dari koran bekas. Untuk  kerajinan ini, hanya dibuat jika ada pesanan . Rata-rata kerajinan dijual Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. Selain memberdayakan anggota KSM, untuk membuat kerajinan ini juga melibatkan warga desa yang memiliki ketrampilan untuk membuat kerajinan koran bekas. ‘’Kami juga membuat kerajinan hias dari kresek bekas,’’ ujar Sarasmini.

Ke depan,  KSM TPS 3R Bantas Lestari hendak bergerak dibidang ekowisata. Dimana para wisatawan yang datang bisa menanam tanaman dengan memakai pupuk organik yang dibuat oleh KSM TPS 3R Bantas Lestari. ‘’Kegiatan ini sudah berjalan dan kami bekerjasama dengan homestay yang ada. Diharapkan akan ada bantuan dari Pemda untuk semakin mengembangkan kegiatan ini,’’ harap Sarasmini. (wira sanjiwani/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.