Made Kikik menunjukan tukik yang akan dilepas. (BP/nik)

GIANYAR, BALIPOST.com – Sejak 2014 kelompok Saba Asri melakukan penangkaran terhadap ribuan tukik. Namun hingga kini kelompok yang konsisten dalam aksi konservasi penyu ini mengalami kendala dalam pengadaan pakan. Akibatnya ribuan telur dan tukik mati setiap tahunnya di penangkaran yang beralamat di Desa Saba, Kecamatan Blahbatuh ini.

Pengelola Saba Asri, Made Kikik mengatakan, selama ini memang pihaknya suda mendapat bantuan dari pemerintah ataupun CSR dari pihak swasta. Namun bantuan tersebut sifatnya tida rutin sehingga tidak cukup memenuhi kebutuhan pakan tukik setiap harinya. “Memenuhi kebutuhan pakan masih menjadi kendala bagi kami,“ ucapnya.

Dikatakan dalam sehari pihaknya menggunakan pakan ikan tuna menghabiskan 6 kg setiap harinya, yakni untuk pakan pagi dan sore. Per kg ia kerap membeli tuna seharga Rp 45 Ribu. “Hitungnya saja Rp 45 Ribu kali 6, segitulah menghabiskan pakan setiap harinya,“ ucapnya.

Sebelum tuna, dulu ia juga menggunakan pakan udang, namun harga udang tidak terjangkau yakni mencapai 80 Rp per kg. Kalau udang pihanya membutuhkan lebih dari 6 kg, karena udang harus dikupas kulit da kepalanya. “Udang tidak terjangkau makannya kami pakai tuna, kalau tidak terjangkau juga ya kami ngutang dulu di pedagangnya, “ ucapnya.

Diakui kendala pakan sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang tukik, sebab bila tukik kekurangan makanan akan langsung menjadi kanibal. Kondisi ini pula yang menjadi salah satu penyebab banyaknya tukik mati di penangkaran ini, “ Ya tukik memang bisa menjadi kanibal, kalau pakannya kurang, “ katanya.

Baca juga:  Konsisten Menjaga Identitas Pariwisata Bali

Bahkan berdasarkan data, cukup signifikan perbandingan antara telur penyu yang di pungut di seputaran pantai Gianyar dengan tukik yang di lepaskan setiap tahunnya. Seperti pada 2016 ada sekitar 6.605 butir telur yang diselematkan di kelompok Saba Asri. Namun dari jumlah itu yang dilepas di bibir pantai hanya 27 ekor, sehingga ada 6578 telur atau tukik yang tidak terselematkan pada 2016.

Selanjutnya pada 2017, kelompa Saba Asri berhasil memungut 11.029 butir telur tukik, namun yang dilepas hanya 1.976 tukik. Pengambilan telur tukik oleh kelompok ini paling tinggi tahun ini yakni mencapai 32.850 butir telur, namun yang tercatat dilepas hanya 2.327 ekor.

Berdasarkan data terkahir, diketahui ada puluhan tukik yang mati setiap harinya.

Made Kikik menjelaskan selain faktor kekurangan pakan, tukik yang dirawat di penangkaran ini juga banyak yang mati akibat jamur. Kondisi ini dominan terjadi pada 2017 lalu. “Tahun lalu serangan jamur banyak sekali, cemat menularnya ke sesame tukik, “ ucapnya.

Perlu diketahui Made Kikik banyak mengumpulkan telur penyu lekang . Jenis ini banyak ditemukan disepanjang pantai Gianyar yang berasir hitam. Ia juga banyak menerima temuan telur penyu dari kecamatan lain seperti Klungkung dan Karangasem. “Dari kabupaen lain juga ada yang meneyrahkan, dan kita tetaskan disini,“ tandasnya. (manik astajaya/balipost)

 

 

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.