Wisatawan menikmati wisata berkuda di Pantai Kedonganan. (BP/dok)

DENPASAR, BALIPOST.com – Isu pariwisata Bali murahan sudah lama terdengar. Namun hingga kini belum ada upaya signifikan mengarah ke perbaikan.

Belum lama ini, Bali kembali digegerkan dengan temuan paket berwisata ke Bali dijual dengan harga Rp 600.000. Ini semakin menunjukkan Bali pariwisata murahan.

Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati mengatakan, dari tahun ke tahun, pariwisata Bali tetap menunjukkan tren positif. Banyak wisatawan datang ke Bali tidak hanya yang kaya, tetapi juga yang miskin bahkan ada yang gila.

Tindak lanjut yang akan dilakukan adalah moratorium untuk mengendalikan supply. Ketika terjadi over supply akan terjadi perang tarif dan penekanan harga.

Selain itu jenis produk yang dijual diharapkan tidak ikut terseret mengikuti keinginan pasar. Maka yang harus dilakukan adalah penegakan hukum. “Kalau dibiarkan, lambat laun akan menjatuhkan Bali,” ujarnya saat FGD Road to Quality Tourism yang dilakukan Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Badung, Selasa (23/10).

Wakil Bupati Badung Ketut Suiasa mengatakan, penjualan paket wisata yang murah membuat pariwisata Bali tidak bermartabat. Jika kondisi ini terus terjadi akan sangat disayangkan karena pariwisata Bali berlandaskan budaya.

Dengan menjual murah berarti menjual murah budaya Bali. Menurutnya, ini suatu pelecehan. Bahkan, menurutnya, ini adalah bentuk penjajahan yang dampaknya lebih parah dari risiko perang senjata. Risikonya akan lebih cepat berdampak pada rusaknya moral, ekonomi, mental.

Kejadian penjualan paket wisata Bali yang murah juga menunjukkan rasa nasionalisme yang tidak kuat. Maka dari itu, ia mengajak stakeholder pariwisata mencari solusi dan kesamaan gerak dalam penanganan. ‘’Agar melahirkan rekomendasi apa yang mesti dilakukan dan siapa yang melakukan, biar jelas hasilnya,’’ kata Suiasa.

Setelah rekomendasi keluar, diharapkan pada pertemuan berikutnya ada hasil evaluasi dan hasil FGD yang dibicarakan serta isu yang faktual yang terjadi pada hari itu. Ia pun akan berkoordinasi dengan Bupati untuk membuat tim khusus.

Baca juga:  Belasan Pelanggar KTR Jalani Sidang Tipiring

Ketua Bali Tourism Board (BTB) I.B. Agung Partha Adnyana mengatakan, untuk menuju quality tourism, semua pihak terutama stakeholder pariwisata harus bersatu menghadapinya. “Tidak ada yang terlalu menonjol dalam bersikap dan tidak ada lebih di bawah,” ujarnya.

Selama ini market Cina selalu dianggap sebagai market murah dan wisatawan tidak berkualitas. Namun market Cina sangat besar dan tidak semua murahan. Maka dari itu, Bali harus mengambil peluang market Cina ini. Saat ini kepercayaan Cina pada Bali sangat rendah.

Bahkan Konsulat Jenderal Cina di Bali menerima banyak komplain tentang Bali dengan banyaknya kecelakaan yang menimpa wisatawan Cina. Dengan kepercayaan yang rendah itu, ia khawatir kunjungan wisatawan Cina berkurang jika masalah ini tidak diperbaiki.

Menurutnya, yang harus dilakukan adalah memberikan recognition. Mengingat ada warning dari pemerintah Cina untuk tidak dianjurkan ke Thailand, maka inilah momen untuk mengambil pasar Thailand.

Konjen Cina pun meminta padanya untuk memberikan rekomendasi company atau destinasi yang dianjurkan BTB. “Beliau (Konjen Cina, red) malah ingin menjadikan Bali the best destination for Tiongkok. Kalau enggak, kepercayaan Cina akan turun. Apa pun kerjasamanya yang akan dibangun dengan Cina, agar tetap membangun kredibilitas Bali,” ungkapnya.

Kepala Dinas Pariwisata Badung Ir. I Made Badra, M.M. mengatakan, untuk menuju quality tourism perlu menjaga keseimbangan supply dan demand. Keseimbangan ini perlu kajian. Untuk itu, ia akan menyiapkan anggaran untuk melakukan riset bekerja sama dengan STP dan Udayana. ‘’Untuk melihat apakah masih over supply atau demand-nya rendah karena ini menyangkut masalah harga,’’ ujarnya pada kesempatan yang sama. (Citta Maya/balipost)

BAGIKAN

1 KOMENTAR

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.