Pujawali
Umat Hindu melakukan persembahyangan. (BP/dok)

Oleh I Gusti Ketut Widana

Apa pun yang namanya ritual adalah simbol. Simbol yang divisualisasi lewat elemen material bermakna teologis ataupun filosofis. Kata simbol itu sendiri berasal dari kata symbolon (dalam bahasa Greek) yang berarti tanda dan dengan tanda itu seseorang mengetahui atau mengambil kesimpulan tentang sesuatu. Di dalam bahasa Sanskerta kata simbol disebut pratika artinya “yang datang ke depan, atau yang mendekati”.

Istilah simbol juga berarti satu hal atau keadaan yang merupakan pengantaraan pemahaman terhadap objek. Manifestasi karakteristik simbol tidak terbatas pada isyarat fisik, tetapi dapat juga   berwujud pada penggunaan kata-kata, yakni simbol suara yang mengandung arti bersama serta bersifat standar. Singkatnya, simbol berfungsi memimpin subjek kepada objek. Simbol juga memiliki makna mendalam, sebagai konsep yang paling bernilai dalam kehidupan masyarakat.

Pada kenyataannya, apa pun yang ada, baik di luar dirinya maupun yang melekat pada diri manusia adalah juga serangkaian simpul-simpul simbol yang apabila ditafsir akan menyembulkan/memunculkan  bermacam makna. Makna yang  berasal dari hasil pencermatan, pembacaan, penghayatan atau bahkan kesepakatan atas apa yang  ada di balik simbol itu.

Jadi, hakikat simbol adalah bukan semata-mata terletak pada apa yang tampak dalam bentuk materi yang  berbentuk, tetapi lebih kepada apa yang berada (tersembunyi) di balik  perwujudan itu sendiri. Singkatnya, simbol  hanyalah penuntun tentang suatu makna yang kemudian sepatutnya direalisasikan ke dalam bentuk sikap ataupun perilaku.

Kaitannya dengan ritual Saraswati, jika selama ini umat lebih bersandar pada simbol lewat ungkapan anak mula keto, lengkap dengan larangan tidak boleh membaca, maka dalam konteks kekinian, makna Saraswati adalah sebagai simbol  turunnya ilmu pengetahuan yang mewajibkan umat untuk dengan disiplin terus belajar sebagai media bhakti (persembahan) ke hadapan Hyang Widhi.

Hal ini dengan jelas  disuratkan kitab Bhagawadgita, IV. 34: Tad viddhi pranipatena, paripprasnena sevaya, upadekshyanti te jnanam, jnaninas tattvadarsinah (pelajarilah itu dengan sujud disiplin, dengan bertanya dan dengan kerja berbakti; orang yang berilmu mereka melihat kebenaran, dan akan mengajarkan kepadamu pengetahuan itu). Bahkan,  dalam sloka 36 disebutkan pula pahala yang didapat jika menguasai ilmu pengetahuan: api ced asi papebhyah, sarvebhyah papakrittavah, sarvam jnanaplavenai ‘va, vijinam santarisyasi (walau seandainya engkau paling berdosa di antara manusia yang memikul dosa, dengan perahu ilmu pengetahuan ini lautan dosa engkau akan seberangi).

Demikian, ritual Saraswati sebenarnya dapat dinalar melalui simbol-simbolnya tanpa perlu lagi berpijak pada adagium anak mula keto yang dalam konteks zaman now sudah seharusnya direinterpretasi. Bagaimanapun juga, yang namanya simbol (nyasa), lebih-lebih dalam konteks ritual berbasis material, sejatinya hanya sebagai media penuntun agar umat dapat merealisasikan maknanya dalam bentuk behavioral (perilaku).

Jika umat tetap dan terus saja bergerak  di seputaran simbol, meski ada maknanya, justru akan menghilangkan hakikat maknanya. Bisa jadi aktivitas ritual Saraswati  akan berubah hanya sebagai momen seremonial bersifat formal, tanpa mampu memberi motivasi dan inspirasi kepada umatnya untuk bergerak meningkatkan derajat intelektual dan juga spiritualnya.

Baca juga:  Warga Padati Titra Panglukatan Taman Campuan

Untuk kepentingan itu, penting sekali umat terus-menerus menalar setiap kegiatan ritual, khususnya Saraswati agar tidak selalu bersandar pada piteket anak mula keto. Ungkapan anak mula keto itu sendiri, memang merupakan bentuk  ekspresi pengalaman mental masyarakat Bali, yang kemudian dicetuskan lewat kata/istilah tersebut.

Dalam analisis hermeneutik, penafsiran atas ungkapan anak mula keto mengandung makna sebagai sesuatu yang memang sudah begitu/demikian adanya sehingga wajib diterima sebagai mana adanya sejak awal/mula/dahulu kala. Pesan mendalamnya, apa pun yang sejak awal, mula pertama, dan kemudian sudah diwarisi, hendaknya diterima saja tanpa perlu banyak bertanya apalagi meragukan atau hendak menggugatnya.

Di satu sisi, ungkapan anak mula keto itu sebagai ekspresi mentalitet masyarakat Bali yang diajarkan untuk senantiasa  menerima apa pun yang sudah menjadi pituduh-Nya tanpa pretensi menuduh balik pada-Nya. Namun di lain sisi, bisa juga dinalar ataupun ditafsir sebagai bentuk pembelajaran, bahwa apa pun sesuatu itu wajib diketahui atau dipelajari, dengan berusaha sendiri  menjejaki, menelusuri, mencari hingga menemukan makna-makna di balik simbol ritual.

Sebagai contoh, ada beberapa ungkapan yang termasuk mengikuti pakem anak mula keto yang patut dinalar dengan benar, seperti sing dadi nyambat adan anak tua (tidak boleh menyebut nama asli orang tua), jika hendak memanggil cukup dengan menyebut nama anak tertua. Misalnya, kalau anak tertua bernama I Putu Darma, maka orang tuanya cukup dipanggil ‘Pan/Men Darma’, meski nama asli kedua orang tuanya bukan Darma. Penyebutan nama asli orang tua dianggap premada, tidak etis dan terkesan merendahkan (nyampahin).

Lalu ada ungkapan sing dadi negakin galeng, nyanan busul jite (tidak boleh menduduki bantal nanti bisulan pantatnya). Arti sebenarnya tidaklah bersifat harfiah tetapi maknawiah karena galeng/bantal itu adalah tempat sandaran kepala yang dihormati/disucikan sebagai  siwadwara (pintu keluar masuk Siwa).

Begitupun dalam konteks ritual Saraswati dengan larangan sing dadi mamaca, bukan berarti umat dilarang membaca, tetapi  logika nalarnya, bagaimana bisa membaca buku, sebab saat ritual Saraswati berlangsung berbagai wujud pustaka beraksara sebagai wahana Dewi Saraswati sedang diupacarai (dibantenin). Simpulannya, sepanjang terkait dengan simbol (ritual) yang dikaitkan dengan ungkapan anak mula keto, tetap harus dicarikan pemaknaannya sesuai nalar.

Caranya dengan terus belajar mengejar ketertinggalan ilmu pengetahuan (duniawi) dan lebih-lebih pengetahuan rohani yang selama ini terkungkung perangkap anak mula keto, sehingga membuat umat masa bodoh, bahkan benar-benar bodoh untuk hal yang berhubungan dengan peningkatan kualitas intelektual dan peningkatan kesadaran spiritual.

Melalui Piodalan Sanghyang Aji Saraswati, serat simpul suratan simbol-simbol ritual diharapkan mampu menimbulkan atau menyembulkan perilaku unggul yang lebih bermakna dan berguna bagi umat Hindu, meluas lagi untuk sebagian besar masyarakat, tidak saja secara material, sosial, juga mental, moral hingga akhirnya memuncak pada pencapaian kesadaran sprititual sebagai jalan ideal kembali ke alam asal yang kekal.

Penulis, dosen Fakultas Agama dan Seni Unhi Denpasar

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.