Ilustrasi. (BP/ant)

Oleh Ribut Lupiyanto

Tentara Nasional Indonesia (TNI) memperingati hari ulang tahun ke-73 pada 5 Oktober 2018. Tema peringatan tahun ini adalah “Profesionalisme TNI untuk Rakyat”. TNI bersama rakyat dan seluruh komponen bangsa merupakan garda depan penjamin pertahanan negara. Pertahanan negara tidak hanya secara fisik, tapi juga dari ancaman degradasi ideologi, social, dan budaya. Upaya melawannya adalah dengan menjaga internalisasi dan aktualisasi Pancasila serta menguatkan roh dan implementasi nasionalisme.

Semua peran dan upaya di atas telah dibuktikan TNI mulai dari era prakemerdekaan hingga kini pascakemerdekaan. TNI membutuhkan sumber daya manusia dan peralatan memadai. Namun yang paling penting adalah dukungan rakyat yang kuat dan memiliki jiwa kebangsaan. Peringatan HUT TNI membutuhkan refleksi dan tirakat.

Kosa kata “tirakatan” sebenarnya berasal dari bahasa arab thariqat-thariq, arti harfiahnya adalah jalan. Thariqat atau tirakat dapat dimaknai sebagai jalan pencarian nilai-nilai kebenaran. Pencarian di sini terkait spirit kenegarawanan dan pejuangan para pendahulu.

Mardoto (2008) mendefinisikan tirakatan sebagai proses upaya manusia dalam berkontemplasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Tirakatan seakan-akan meminta diri kita harus menunjukkan perilaku prihatin, sabar, meski tetap berupaya keras, karena cita-cita belum kesampaian, harapan belum terwujud, dalam konteks suasana ini berarti seolah-olah kemerdekaan belum tercapai.

Proses laku dalam tirakatan bertujuan untuk mendorong dan mengarahkan perilaku seseorang agar selalu bersikap positif dan menjauhi hal-hal yang bersifat negatif dan tidak bijaksana, demi menjaga keharmonisan hidup dan untuk tercapainya tujuan hidup (Seto, 2015). Tradisi ini pada praktiknya tidak memiliki kaitan spesifik dengan suatu paham religiusitas tertentu saja, karena diikuti oleh warga berbagai agama dan penganut kepercayaan apa pun.

Sultan Hamengku Buwono X (2009) mengungkapkan bahwa dalam falsafah budaya Jawa sendiri, tirakatan sama halnya seperti menunaikan tugas dan fungsi sosial. Tirakatan dilaksanakan melalui adeping tekad (tekad kuat), cloroting batin (batin yang bersih dan bercahaya), sura dira jayaningrat-lebur dening pangastuti (bersatu dan bekerja sama), sebagai laku yang ditempuh menuju pangajab sih kawilujengan langgeng (untuk keselamatan).

Baca juga:  Dishub Gembok Enam Mobil Parkir Sembarangan

Pancasilais dan nasionalis

Peringatan HUT TNI hendaknya tidak sekadar rutinitas tahunan tanpa kesan. Setiap tahun penting digali dan direfleksikan terkait dinamika kebangsaan. Hal ini guna melanjutkan jalan tirakat yang panjang, yaitu mengisi kemerdekaan. TNI dan rakyat memiliki tantangan besar untuk mempertahankan dan mengembangkan diri menjadi Pancasilais dan nasionalis.

Problematika bangsa ke depan semakin kompleks seiring kemajuan zaman. Mulai dari kasus individual, komunal, hingga sistemik. Semua membutuhkan laku tirakat, mulai dari rakyat, aparat dan pejabat serta saling bersinergi mengantisipasi dan mengatasinya. Pejabat penting membudayakan tirakat hingga terbangun kesalehan kepemimpinan. Terbangunnya kesalehan kepemimpinan akan menjadi kunci penanggulangan penyakit bangsa.

Tirakat selanjutnya adalah dalam konteks sosial. Tirakat sosial merupakan aplikasi kesalehan sosial dan menjadi pintu pembuka menuju kesejahteraan dan keadilan sosial. Idealnya kesenjangan antarwarga tidaklah lebar jurangnya. Kondisi ini akan merangkai harmoni dan menjadi strategi meminimalisasi kecemburuan hingga konflik sosial.

Tirakat juga menjadi senjata mengendalikan nafsu apa pun. Harapannya dapat mengerem tindak kriminalitas, konflik, radikalisme, hingga terorisme. Kuncinya adalah internalisasi dan aplikasi nasionalisme sebagai buah dari laku tirakat rakyat.

Salah satu aspek yang penting mendapatkan perhatian serius adalah pencegahan terjadinya upaya merongrong Pancasila dan eksistensi bangsa. Spirit nasionalisme yang terefleksikan dalam peringatan hari besar layak diterapkan dalam mencegah radikalisme dan terorisme. Akar masalah timbulnya permasalahan bangsa antara lain ketidakadilan, dendam, ketidakpuasan, kesenjangan sosial, kemiskinan dan ideologi atau paham radikalisme. Banyak faktor penyebab seperti perubahan ideologi, fanatisme agama yang sempit, solidaritas sosial yang keliru dan berujung pada lemahnya rasa nasionalisme sebagai bangsa Indonesia.

Penulis, Deputi Direktur Center for Public Capacity Acceleration (C-PubliCA) 

 

 

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.