MANGUPURA, BALIPOST.com – Soundrenalin 2018 menghadirkan sejumlah workshop bagi para pengunjung. Gelaran acara musik tahunan di Garuda Wisnu Kencana (GWK) ini setelah 15 tahun digelar menjadi salah satu festival musik dan seni terbesar di Indonesia bahkan Asia Tenggara.

Salah satu workshop yang dihadirkan pada hari kedua, Minggu (9/9) adalah “Make Your Brand Coolest not Clueless.” Workshop diadakan Teh Pucuk Harum yang merupakan official tea drink Soundrenalin 2018.

Debora Christiany, brand executive RTD Tea Beverage Mayora Group mengatakan digelarnya workshop ini sebagai bentuk komitmen Teh Pucuk Harum yang tak pernah berhenti mendukung perkembangan musik. Melalui workshop ini pemusik yang sudah punya nama berbagi pengalaman dan inspiratif bagi talenta bidang musik. “Ini ketiga kali kami ikut Soundrenalin. Feel jauh lebih berasa. Perform pengisi acara juga ok. Kami ingin menginspirasi talenta kfeatif di bidang musik,” ujarnya.

Ia menambahkan Teh Pucuk Harum menggandeng Iga Massardi untuk memberikan workshop. Personil Barasuara ini juga juri Pucuk Cool Jam.

Baca juga:  Soundrenalin 2018 Sukses Digelar, Hadirkan Pengalaman Festival Penuh Warna

Kepada para peserta workshop, Iga memberikan tips bermusik termasuk kiat agar tak nervous di panggung. “Barasuara seperti band lain juga, awalnya numpang latihan. Kami terus latihan tanpa manggung. Lebih baik tampil ditunda dulu. Kami nabung lagu selama 2 tahun, punya 5-6 lagu. Pas makan siang, muncul ide rekaman. Akhirnya klip tampil dan kami pun mulai dikenal,” ungkapnya.

Saat di panggung, Iga pun mengaku pernah grogi. Namun ia menyiasati dengan fokus bermusik. Jangan pernah merasa lebih hebat dari penonton ketika lampu diarahkan ke band.

Ia menambahkan tiap band punya warna dan cara berkreasi sendiri. Lagu yang dihasilkan itu harus bisa merepresentasikan band di panggung. Antara rekaman dan di panggung harus sama.

Mengenai tips menjaga kekompakan band, Iga mengingatkan tiap orang harus bisa mendengar orang lain. “Sekonyol apa pun ide teman dicoba aja. Klo langsung ditolak, bisa jadi residu. Satu lagi, intuisi musisi, kesalahan saat latihan bisa jadi karya seni,” ungkap Iga. (Diah Dewi/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.