Salak Karangasem.yang bakal di kirim ke Lombok. (BP/eka prananda)

AMLAPURA, BALIPOST.com – Adanya gempa bumi yang mengguncang wilayah Lombok Nusa Tenggara Barat (NTB) beberapa waktu lalu rupanya sempat menggangu aktivitas pengiriman salak Karangasem ke wilayah tersebut. Dimana pengiriman salak sempat terhenti hingga berapa hari pasca terjadinya gempa. Namun kini pengiriman salak sudak kembali normal.

Seperti yang diutaran penjual salak di Banjar Kalanganyar,  Desa Kalanganyar, Bebandem, Ni Wayan Sari, Rabu (29/8), mengungkapkan, adanya bencana gempa bumi yang terus terjadi di Lombok memang sangat mempengaruhi pengiriman salak ke wilayah tersebut. Pasalnya, pasca gempa pengiriman salak ke Lombok sempat terhambat beberapa hari.

“Akibat gempa di Lombok yang terus terjasi bebrapa hari saya sempat selama lima hari tidak mengirimkan salak ke Lombok. Di lombok saya membawa ke Lombok utara, Bima dan Sumbawa. Biasanya saya ngirim salak sebanyak 1-2 ton. Karena disana hampir semua warga mengungsi, sehingga tidak ada pembeli. Tapi sekarang pengiriman sudah kembali normal,”ujarnya.

Baca juga:  Salak Gula Pasir Dominasi Produk Hortikultura Pupuan

Dia mengatakan, kendati mengiriman lancar, akan tetapi salak yang dikirim sempat sedikit terlambat sampai di Lombok. Karena sekarang misalnya dikirim, besok baru sampai di lokasi tujuan. “Sebagian besar salak disini di kirim ke Lombok. Karena kalau di jual ke Denpasar tidak begitu. Karena kebutuhannya tidak terlalu banyak. Sehingga sulit menjual salak di Bali kalau tidak di kirim ke Lombok,”ujarnya.

Hal senada juga diungkapkan, Ni Nyoman Rinti. Dia menambahkan, jika dirinya sempat tak mengirim salak ke Lombok. “Salak yang dikirim ke Lombok sampai tujuh ton. Tapi sekarang sudah kembali lancar mengirim salak ke Lombok. Semoga kedepannya pengiriman tidak terhenti lagi,”paparnya.

Disinggung terkait harga, Rinti menjelaskan, jika harga tidak ada perbedaan. Dimana salak yang ukuran besar dijual Rp 4.000 perk kg, sedsngkannyang sedikit lebih kecil Rp 3.500. “Kalau harga tidak berpengaruh. Tetap sama seperti sebelumnya. (eka prananda/balipost)

 

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.