Dirut BTN Maryono saat paparan kinerja di Jakarta, Rabu (18/7). (BP/son)

JAKARTA, BALIPOST.com – BTN segera mengalirkan kredit dengan skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) untuk mempercepat realisasi program sejuta rumah. “Dengan adanya FLPP tersebut diharapkan akan meningkatkan kapasitas kredit perseroan sehingga masyarakat dapat memiliki rumah yang layak dengan cara mudah, cepat dan murah sekaligus dapat mempercepat pencapaian program satu juta rumah,” kata Dirut BTN Maryono saat paparan kinerja di Jakarta, Rabu (18/7).

Maryono mengatakan, BTN saat ini masih menguasai pangsa pasar KPR nasional sebesar 37,47% dan menjadi penyalur terbesar diantara perbankan lain untuk KPR Subsidi sebesar 94,12%. Ia menambahkan, khusus untuk Program Satu Juta Rumah, per Juni 2018, BTN sudah menyalurkan KPR untuk 423.303 unit rumah dengan nilai Rp38,4 triliun baik dalam bentuk KPR subsidi maupun non subsidi.

Dari keseluruhan penyaluran KPR tersebut, kata Maryono, 307.360 unit diantaranya berbentuk kredit konstruksi perumahan. Adapun khusus untuk KPR subsidi BTN sudah mendistribusikan pinjaman untuk 297.044 unit rumah dengan nilai Rp17,15 triliun.

Mnyinggung kinerja perseroan, Maryono mengatakan, BTN berhasil mencatatkan peningkatan penyaluran kredit sebesar 19,14% di tengah sentimen kenaikan suku bunga kredit. Kredit BTN mencapai Rp211,35 triliun naik dibandingkan semester pertama tahun lalu yang hanya Rp177,40 triliun.

Angka pertumbuhan kredit yang ditoreh BTN di atas rata-rata pertumbuhan kredit industri perbankan yang tercatat oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencapai 10,26%. “Pendongkrak utama kredit BTN tak lain adalah kredit perumahan yang tumbuh 19,76% atau menjadi sebesar Rp191,30 triliun,” kata Maryono.

Baca juga:  THR dan Gaji 13 Diharapkan Perbaiki Kinerja ASN

Sementara itu, Unit Usaha Syariah Bank Tabungan Negara (UUS BTN) telah menyalurkan pembiayaan Rp 19,88 triliun. Angka itu naik 25,64 persen dibandingkan periode sama tahun lalu yang hanya Rp 15,82 triliun.

Kenaikan pembiayaan itu, kata dia, dibarengi pula dengan kenaikan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dihimpun BTN Syariah. “DPK tumbuh 24,7 persen menjadi Rp 19,49 triliun, sebelumnya di periode sama 2017 hanya mencapai Rp 15,63 triliun,” ujarnya.

Dengan pencapaian tersebut, UUS yang berdiri sejak 14 Februari 2004 itu mencatat kenaikan laba bersih sebesar 15,02 persen. Nilainya sebesar Rp 226,28 miliar.

Maryono menyebutkan, aset BTN terus bertambah. Pada semester I 2018, aset BTN naik 26,12 persen dari Rp 19,33 triliun pada semester I 2017 menjadi Rp 24,38 triliun.

Direktur Keuangan BTN Iman Nugroho Soeko menambahkan, sama seperti konvensional, bisnis BTN Syariah pun masih tetap didorong oleh pembiayaan perumahan. “Karena memang BTN syariah ini mirroring dengan konvensional, porsi pembiayaan perumahan di BTN syariah juga di atas 75 persen,” ujarnya.

Ke depannya, kata dia, UUS BTN ini tetap bakal fokus menyalurkan pembiayaan perumahan. “Karena kita kan bank yang fokus pada pembiayaan perumahan, BTN syariah ini sebagai windows bagi nasabah yang ingin bertransaksi secara syariah,” tutur Iman. (Nikson/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.