Pemilih mengantre di TPS untuk menggunakan hak suara mereka. (BP/kmb)

PROSES Pilkada di Bali tergolong aman serta lancar. Tidak ada hal-hal serius yang bisa dicatat sebagai sesuatu yang bisa mencoreng proses tersebut. Setidaknya, mulai awal proses tergolong minim hambatan sampai pada saat puncak pencoblosan.

Semuanya berjalan lancar serta aman. Kalaupun ada riak-rial kecil, itu bisa digolongkan sebagai hal yang lumrah terjadi dalam perhelatan demokrasi.

Sekali lagi, proses Pilkada telah berjalan lancar dan yang penting aman. Para pihak kontestasi bisa mengarahkan simpatisan serta pendukugnya ke dalam zona Pilkada yang aman dan lancar. Tidak ada para pihak yang terpancing dengan agitasi, provokasi maupun segala bentuk ajakan negatif yang bertebaran di media sosial. Ini sekali lagi setidaknya menunjukkan bahwa masyarakat sudah cerdas dalam berpolitik. Sudah paham benar bagaimana berproses dalam sebuah hajatan demokrasi yang elegan.

Sebagai sebuah daerah wisata, sudah sangat sering diutarakan bahwa kondisi Bali yang kondusif merupakan harga mati bagi sebuah keberlangsungan mesin pariwisata. Periuk nasi diagunkan dalam bisnis yang bernama pariwisata. Semua pihak mesti menjaga segala sesuatunya agar berjalan sebagaimana biasanya. Setidaknya, target minimal telah dicapai. Pilkada yang aman tenteram sarta menyejukkan. Ini merupakan langkah yang bagus untuk proses serupa mendatang.

Sekali lagi, ini target awal atau bisa dikatakan target minimal. Selebihnya tentu kita masih menunggu sang pemenang untuk mewujudkan janji-janji kampanye politiknya. Bagaimana dia berbuat? Bagaimana dia merangkul semua pihak agar mau bekerja sama demi kemajuan Bali sebagai suatu enitas yang utuh. Tidak ada lagi kotak-kotak politik yang memisahkan. Tidak ada lagi perbedaan yang membuat kita tidak bersatu.

Sekarang tinggal melihat berapa angka pemilih golongan putih. Apakah naik atau turun dibandingkan proses yang sama pada periode sebelumnya. Karena tingkat sukses atau tidaknya sebuah pemilihan politik juga tergantung besar kecilnya angka golput.

Baca juga:  Bakal Paslon Pilkada Ikuti Tes Psikologi, Jalani Tes Hingga 7 Jam

Terus terang, kita masih berada pada awal sekali dalam sebuah perhelatan untuk melahirkan pemimpin yang baru. Banyak harapan yang diungkapkan. Namun sejauh mana harapan itu mampu menemui titik singgungnya dengan kebijakan baru penguasa baru, ini yang penting.
Tinggal melanjutkan yang sudah baik dan mencari celah bagi hal-hal baru yang sifatnya sistemik, ini yang ditunggu.

Jangan terlena. Setelah menang kemudian larut dalam euforia. Dan yang kalah pun jangan terus terbenam. Ini baru langkah awal. Sangat prematur terjebak dalam sebuah hegemoni kekuasaan yang kemudian sudah mencari celah-celah keuntungan sendiri.

Bali sejatinya permasalahannya tidaklah sama dengan daerah lainnya karena Bali relatif homogen. Tetapi kondisi ini bukan berarti masalah yang ada bisa dianggap enteng. Sejak dulu, masalahnya itu-itu saja yang belum terselesaikan.

Di antaranya, lalu lintas, permukiman, alih fungsi lahan dan sebagainya. Masalahnya itu-itu saja namun belum ada jurus bermutu yang bisa menyelesaikan. Ini masalah lama bagi pemimpin baru. Semoga ada penyelesaian dengan strategi baru.

Tentu dalam konteks mengatasi Bali, pemimpin pilihan rakyat haruslah menjadi pemimpin yang bijak. Tanggung jawab moral dan komitmen menjaga Bali tentu harus menjadi hal utama yang harus dijabarkan. Keberpihakan pada budaya Bali dan melakukan ruang komunikasi yang sehat dengan semua elemen tentu juga harus menjadi prioritas. Yang jelas, kepercayaan rakyat Bali jangan disalahgunakan. Jadilah pemimpin yang mampu menjawab aspirasi masyarakat dan mengayomi Bali.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.