Dewa Ketut Budidana Susila. (BP/san)

TABANAN, BALIPOST.com – Selama ini Tabanan dikenal sebagai kawasan penghasil kopi robusta. Luasnya mencapai 7.740 hektar dan berlokasi di wilayah Pupuan. Meski sudah menjadi kawasan penghasil kopi robusta,

Tabanan sendiri hendak mengembangkan kopi arabika dimana sudah ada sebelas hektar kopi jenis ini ditanam yang berlokasi di banjar Munduk Buluh Desa Pujungan Tabanan. Sayangnya untuk menjadi kawasan penghasil kopi arabika, Tabanan masih terbentur dana dan kondisi geografis.

Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Tabanan, Dewa Ketut Budidana Susila, Minggu (20/5) mengatakan, dari kondisi geografis untuk penanaman kopi jenis arabika memang cukup sulit. Dimana ketinggian suatu wilayah untuk menanam kopi jenis ini adalah dari 900 meter hingga 1200 meter.

‘’Beda dengan kintamani yang ketinggiannya mencukupi sehingga bisa dikembangkan kopi jenis ini, Tabanan masih sulit mencari daerah  yang memenuhi syarat geografis ini. Jika di Pupuan hanya di Banjar Munduk Buluh,’’ jelas Susila.

Karena kawasan geografis Pupuan rata-rata berada diketinggian 400 hingga 800 meter, maka memang lebih cocok ditanami kopi jenis robusta yang baik tumbuh diketinggian tersebut. Meski demikian, Dinas Pertanian tetap mencoba untuk mengembangkan kopi jenis arabika meski saat ini selain terbentur geografis juga belum mendapatkan pendanaan dari pusat.’’Sempat kita ajukan. Tetapi masih belum dapat,’’ ujarnya.

Baca juga:  Rp 336 M Dikucurkan untuk Proyek Gedung Budaya Badung

Menurutnya kopi arabika yang ditanam di Tabanan dalam hal ini di Banjar Munduk Buluh seluas 11 hektar memiliki ciri yang berbeda dengan kopi arabika  Kintamani meski jenis bibitnya sama. Menurut Dewa Susila, buah yang dihasilkan justru menyerupai robusta. ‘’Buahnya besar-besar mirip dengan robusta. Diyakini rasanya pun berbeda dengan kopi arabika di Kintamani,’’ jelasnya.

Selain Pupuan, daerah yang berpotensi dikembangkan kopi arabika adalah daerah Penebel terutama di sekitar kawasan Gunung Batukaru.  Dalam mengembangkan kopi arabika ini menurut Dewa Susila pihaknya akan melakukan secara bertahap dan menunggu hingga pengelolaan kawasan kopi robusta sudah berjalan baik.’’Kami mantapkan dulu kopi robusta. Jika sudah baik barulah akan ke kopi arabika,’’ imbuhnya. (Wira Sanjiwani/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.