Dewa Ayu Megayani saat menjalankan tugasnya sebagai bidan desa di Desa Terunyan. (BP/ina)

BANGLI, BALIPOST.com – Menjalani profesi sebagai bidan desa memiliki banyak tantangan. Apalagi jika ditugaskan di wilayah desa terpencil. Bidan tak hanya dituntut mampu memberikan pelayanan kesehatan dan menggerakan masyarakat agar memiliki kesadaran berprilaku hidup bersih dan sehat, namun juga harus memiliki fisik yang kuat dan tangguh. Karena tak jarang, seorang bidan desa yang bertugas di daerah terpencil harus kuat berjalan jauh melintasi medan yang berat demi memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat di wilayah kerjanya.

Seperti yang selama ini dijalani Dewa Ayu Megayani, bidan desa di Desa Terunyan, Kintamani. Bidan berstatus PTT Pusat asal Desa Apuan Susut ini, setiap minggunya harus menaiki bukit terjal selama berjam-jam demi bisa memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat di Dusun Madya desa setempat.

Sebagaimana diketahui, Dusun Madya adalah salah satu dusun yang ada di wilayah balik bukit Terunyan. Dusun tersebut hanya bisa ditempuh dari pusat Desa Terunyan dengan cara berjalan kaki melintasi bukit. Hal itu dikarenakan tidak adanya akses jalan memadai yang bisa dilalui kendaraan menuju Dusun Madia sampai saat ini.

Megayani mengaku dirinya tak pernah sedikitpun membayangkan akan menjalani profesi sebagai bidan apalagi bertugas di desa yang masuk kategori terpencil. Dia menuturkan mulai menjalani profesi sebagai bidan sejak 2006. Hanya saja, saat awal menjadi bidan dirinya mengabdikan diri di Denpasar. Baru sejak 2011, dirinya mulai diangkat pemerintah sebagai bidan desa dan ditugaskan di Desa Terunyan.

Seperti halnya tugas bidan desa lainnya, setiap harinya wanita 39 tahun ini harus melaksanakan tugasnya memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat Terunyan terutama kesehatan ibu dan anak. Selama bertugas sebagai bidan desa di Terunyan, diakuinya tantangan terberat yang dihadapi adalah kondisi geografis desa yang berbukit dan terjal, terutama dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat yang ada di Dusun Madia.

Baca juga:  Air Danau Meluap, Dermaga Penyebrangan di Kedisan Terendam

“Karena belum ada jalan memadai yang bisa dilalui kendaraan ke Dusun Madia, saya selama ini harus berjalan kaki naik ke bukit. Dari (pusat) desa, sekitar dua jam-an,” ungkapnya.

Diakuinya meski ada jalan alternatif yang bisa dilalui kendaraan dari wilayah Karangasem, namun hal itu tidak bisa dijadikannya pilihan. Karena jalan yang bisa dilintasi kendaraan dari arah Karngasem hanya setengah perjalanan dan tidak sampai Dusun Madia. “Jadi sama saja, kalau mau ke Dusun Madianya tetap harus jalan kaki juga,” ujarnya.

Selama ini pemberian pelayanan kesehatan kepada masyarakat di Dusun Madia dilakukannya setiap seminggu sekali. Tak jarang dirinya ke Dusun Madia seorang diri, jika rekan sesama petugas puskesmas lainnya sedang ada kesibukan. Karena medan yang dilaluinya terjal dan jarak yang jauh, Megayani mengaku selalu menjaga kondisi tubuhnya agar tetap fit.

Meski tantangan yang dihadapinya dalam bertugas menjadi bidan desa di Terunyan cukup berat, Megayani mengaku tidak pernah meratapinya. Dirinya cukup menikmati tugasnya tersebut. Tingginya tingkat kesadaran masyarakat di Desa Terunyan untuk menjaga dan memeriksakan kesehatannya ke puskesmas, adalah salah satu hal yang memotivasi dirinya untuk semangat menjadi bidan desa di Desa Terunyan.

“Di Terunyan, masyarakatnya sangat sadar dan peduli sekali terhadap kesehatannya. Kalau batuk pilek sedikit saja, langsung memeriksakan kesehatannya ke puskesmas. Dan kedatangan kita selalu ditunggu masyarakat. Ini yang membuat saya termotifasi untuk semangat bertugas di sana,” ujarnya.

Bahkan dirinya tak bisa membayangkan bagaimana kedepannya jika dirinya harus dipindahtugaskan ke tempat lain. Dengan profesinya saat ini, dirinya ingin bisa menjadi manusia yang berguna bagi masyarakat. (dayu rina/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.