Penari menampilkan Tari Sanghyang Jaran. (BP/nan)

BANGLI, BALIPOST.com – Tarian Sanghyang Jaran merupakan tarian yang cukup sakral. Tarian ini tidak ditampilkan di sembarangan tempat dan biasanya ditarikan di tempat tertentu seperti di pura ketika ada kegiatan upacara keagamaan.

Pada Rabu (9/5) tarian ini ditampilkan di depan monumen perjuangan Kapten A.A Mudita Bangli, serangkain HUT Kota Bangli Ke-814. Tarian yang dipentaskan Sanggar Geni Astu, Banjar Siladan, Desa Tamanbali, ini mampu memukau penontong, dari anak-anak hingga dewasa.

Keseruan dari Tarian Sanghyang Jaran, yang sepintas mirip Tari Kuda Lumping muncul ketika para penari mengalami suatu trance (kesurupan), sehingga melakukan hal-hal gaib. Para penari akan bermain, bahkan mandi dengan bara api, tanpa sedikitpun mengalami luka bakar.

Prosesi tarian sakral ini, dikemas dengan fragmentari pementasan barong dan rangda, dengan lakon “Perebutan Kecupu Manik, oleh Subali, Sugriwa dan Dewi Anjani.” Dengan diiringi gamelan khas Bali, suasana malam pun kian khusyuk ketika para penari yang sudah mengalami trance, mulai melakukan gerakan-gerakan aneh.

Para penari tak segan-segan memakan dan menjilati besi yang sudah menjadi bara api, tanpa sedikit pun terluka. Suasana bertambah mistis, ketika giliran para penari mementaskan tariannya. Dengan gerakan-gerakan yang seirama dengan kidung dan gamelan yang mengiringinya.

Baca juga:  Unud Tiadakan Penerimaan Mahasiswa Lewat Jalur Ini

Keseruan terjadi ketika nada  gamelan meninggi, para penari ini langsung bermain dan bahkan mandi dengan bara api yang telah disiapkan sebelumnya. Salah satu penari, tanpa ragu memasukkan bara api ke mulut dan memuntahkannya kembali layaknya kembang api. “Jujur ini sangat menegangkan sekali. Saya baru pertama kali menyaksikan pertunjukan Sanghyang Jaran secara langsung. Sangat mistis dan menegangkan,” kata Eka Putra, salah seorang warga.

Pembina sanggar, Ida Bagus Oka Munadi mengungkapkan, biasanya Sanghyang Jaran dimainkan oleh dua sampai tiga orang. “Kita punya tiga sanghyang jaran. Dari tiga tersebut, satu asli dan dua buat duplikat,” sebutnya.

Ia mengatakan biasanya yang lebih sering ditarikan yang duplikatnya. “Yang asli kita tetap bawa ke tempat pementasan, namun tidak ditarikan untuk menjaga kesakralannya. Sanghyang Jaran yang asli, kita tidak tarikan disembarang tempat. Biasanya kita tarikan saat ada upacara tertentu atau hari tertentu. Seperti piodalan di pura,” jelasnya.

Dia menjelaskan, tarian ini digelar dengan tujuan untuk menetralisir alam semesta beserta isinya dari aura negatif. Biasanya tari ini, hanya dipentaskan setiap odalan atau upacara besar di pura setempat. Selain untuk menetralisir aura negatif, pementasan tari sakral ini dimaksudkan pula untuk memohon keselamatan dan kemakmuran. (Eka Parananda/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.