DENPASAR, BALIPOST.com – Ni Ketut Ayu Mahadewi (39) tidak dapat menahan tangisnya saat ditemui di Instalasi Kedokteran Forensik RSUP Sanglah pada Kamis (10/5). Pukul 14.00 ia baru saja ditinggal selamanya oleh ayahnya Ketut Suwentra (70), Sang Maestro Jegog.

Anak keempat sang maestro menuturkan, sebelumnya ayahnya dirawat di Ruang Ratna, RSUP Sanglah karena kanker paru-patu stadium IV. Sang maestro yang dikenal dengan nama Pekak Jegog ini sudah sebulan ini tiga kali masuk rumah sakit.

Pekak Jegog mulai opname setelah ikut konferensi musik di Ambon bulan April 2018 lalu. Sepulang dari sana, kondisinya mulai drop. Saat itu Suwentra langsung dilarikan ke RSUD Wangaya dan rawat inap selama seminggu.

Karena kondisinya membaik, Suwentra akhirnya diperbolehkan pulang. Namun sebulan kemudian, Suwentra kembali masuk rumah sakit. Kali ini ia diobservasi oleh tim medis RSUP Sanglah dan dinyatakan positif kanker paru-paru stadium IV.

Rencananya, jenazah Suwentra akan diberangkatkan ke rumah duka di kelurahan Sangkar Agung, Kecamatan-Kabupaten Jembrana, pada Sabtu (12/5). Upacara pengabenan rencananya akan dilaksanakan pada 16 Mei 2018. Sedangkan upacara nyiramang layon dilaksanakan 15 Mei 2018.

Sebelumnya, Ayu telah memiliki firasat yang tidak enak pada ayahnya. Karena pagi ini, ia diminta untuk memandikan ayahnya. “Padahal saya mau pamit kerja tapi beliau tidak mengizinkan. Tidak seperti biasanya beliau seperti itu. Dari sana perasaan saya mulai tidak enak,” ungkapnya.

Ia menjadi saksi detik-detik terakhir kepergian ayahnya. Pukul 14.00 ayahnya sudah tidak tertolong lagi.

Baca juga:  Wisman Foto di Pelinggih Sudah Kesekian Kali, Harus Ada Langkah Antisipasi Kongkrit

Kakak dari Mahadewi, I Komang Wisnu Wardana menimpali, saat di Wangaya, belum diketahui bahwa ayahnya mengalami sakit kanker paru-paru. “Karena berangsur membaik, Bapak diperbolehkan pulang. Tapi sebulannya, masuk rumah sakit lagi dan diobservasi di RSUP Sanglah. Awalnya dicurigai ada tumor, tapi ternyata bukan. Penyebabnya adalah kanker paru-paru yang penyebarannya sudah ke seluruh tubuh dan sudah stadium IV,” kata Wisnu.

Padahal selama ini, ayahnya tidak pernah mengeluh sakit. Dituturkannya, di usia 70 tahun, Suwentra masih tetap energik berkarya. Seniman yang mendirikan yayasan Suar Agung tidak hanya berkarya di tingkat lokal, tapi juga berkolaborasi dengan seniman nasional dan internasional.

Bahkan Suwentra memiliki jadwal tetap untuk ke Jepang setahun sekali mengenalkan jegog. Selain Jepang, Suwentra juga pernah pentas ke Prancis, dan Cina.

Di mata anak-anaknya, Suwentra merupakan sosok ayah yang baik. “Bapak selalu mengingatkan agar selalu akur dengan keluarga dan saudara. Bapak sosok ayah yang baik. Orangnya lebih banyak mengalah. Dia rela berkorban supaya anak-anaknya tidak ribut,” kenangnya.

Ketut Suwentra berpulang meninggalkan dua istri. Yaitu Anak Agung Sri Tirtawati dan Ni Nyoman Yuliastuti Kazuko serta meninggalkan anak-anaknya yakni I Gede Oka Artanegara, I Kadek Wiwik Artawan (Alm), I Komang Wisnu Wardana, Ni Ketut Ayu Mahadewi dan Ni Ketut Panca Wulandewi. Suwentra juga meninggalkan 14 cucunya. (Citta Maya/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.