Pedagang menjual sejumlah bumbu dapur di Pasar Anyar. Bahan makanan merupakan salah satu komponen penyumbang inflasi di Denpasar. (BP/dok)

DENPASAR, BALIPOST.com – Inflasi April 2018 di Denpasar 0,07 persen dan Singaraja deflasi 0,27 persen. Inflasi ini membawa dampak positif dan negatif bagi masyarakat dan pelaku usaha.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali Adi Nugroho memaparkan, pada April 2018 di Kota Denpasar tercatat inflasi 0,07 persen. Sementara Singaraja deflasi 0,27 persen.

Di Singaraja, deflasi disebabkan oleh pemulihan tingkat harga, yang pada bulan sebelumnya ada upacara Pagerwesi. Inflasi Denpasar dalam hitungan kalender 1,82 persen dan Singaraja 1,22 persen (Januari – April 2018).

Sementara inflasi dihitung secara yoy (April 2018 dibandingkan April 2017) di Singaraja tercatat 3,32 persen dan Denpasar 3,23 persen. “Ini memberikan gambaran dinamikan harga barang di Denpasar dan Singaraja kurang lebih sama,” ujarnya.

Berdasarakan data statistik, tahun 2016, Denpasar mengalami inflasi 2,94 persen dan Singaraja 4,57 persen dihitung secara kalender (Januari- Desember). Tahun 2017, inflasi di Denpasar 3,31 persen dan Singaraja 3,38 persen.

Tahun 2018 hingga April, inflasi Denpasar 1,82 persen dan inflasi Singaraja 1,22 persen. Inflasi ini dinilai wajar oleh sejumlah kalangan karena masih berada di kisaran yang wajar.

Ekonom Prof. IB Raka Suardana menjelaskan, tingkat inflasi searah dengan pertumbuhan ekonomi. Ekonomi yang tumbuh tentunya akan membuat masyarakat memiliki uang. Sehingga peredaran uang akan banyak di masyarakat.

Dengan demikian harga barang akan naik. Di samping itu, juga memacu produsen memproduksi barang.

April ini pun inflasi turun dari bulan sebelumnya. Karena per Maret 2018, inflasi Denpasar 0,15 persen dan Singaraja inflasi 0,38 persen. Penurunan inflasi ini karena harga bahan pokok turun, dampak dari harga beras turun.
Inflasi berdampak positif dan negatif bagi masyarakat dan kalangan pengusaha.

Baca juga:  NTP Bali Terus Turun, Ini Subsektornya

Bagi masyarakat yang berpenghasilan tetap, inflasi akan menurunkan tingkat pendapatan riilnya. Inflasi juga akan menurunkan daya beli masyarakat.

Namun inflasi yang wajar penting bagi produsen karena dapat menstimulus untuk memproduksi barang dan jasa. Inflasi yang wajar adalah 1 – 5 persen. Produksi barang dan jasa oleh produsen ini akan menyerap bahan baku dari produsen primer. “Tapi bagi masyarakat umum, inflasi jangan terlalu tinggi. 1 persen, 2 persen, wajar,” imbuhnya.

Di tingkat makro, inflasi yang meningkat (tidak wajar) akan menyebabkan suku bunga bank akan dinaikkan. Agar uang yang ada di masyarakat terserap oleh bank. Dengan terserap, uang yang beredar akan sedikit dan harga barang turun.

Konsekuensinya, ketika suku bunga bank tinggi, pengusaha akan wait and see dari sisi penyaluran kredit. Sehingga pertumbuhan produksi dunia usaha lesu.

Dengan tingginya suku bunga, maka penyerapan tenaga kerja sedikit bahkan tidak ada. Hal ini berdampak jika inflasi meningkat tajam. Namun jika kisaran inflasi masih dalam angka yang wajar, menurutnya tidak terlalu berdampak signifikan terhadap ekonomi.

Inflasi juga berpengaruh terhadap IHSG karena berhubungan dengan suku bunga bank. Ketika suku bunga bank rendah, para investor akan beralih ke investasi ke saham, sehingga harga saham naik. Ketika suku bunga meningkat, maka masyarakat akan memilih bank sebagai tempat investasi. Maka harga saham akan turun. “Ini yang terjadi sekarang ini,” ungkapnya. (Citta Maya/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.