Bali Belum Bebas Rabies
Ilustrasi. (BP/dok)

TABANAN, BALIPOST.com – Kewaspadaan masyarakat terhadap rabies sangat berguna untuk mencegah terjadinya penyebaran virus ini ke hewan penular rabies (HPR) lainnya serta mencegah terjadinya gigitan dari HPR ke manusia. Hal ini bisa dilihat dari kewaspadaan warga ketika melihat tingkah laku anjing jenis peranakan Pittbull yang mencurigakan. Setelah dilakukan pemeriksaan sampel anjing yang dicurigai ini, dinyatakan anjing tersebut positif terinfeksi virus rabies.

Kepala Dinas Pertanian, I Nyoman Budana, Senin (9/4) mengatakan kasus anjing positif ini terjadi di Desa Beraban Kediri. Saat itu salah satu warga yang memiliki anjing peranakan Pitbull merasa curiga melihat perubahan tingkah laku hewan peliharaannya yang baru berusia enam bulan tersebut. Anjing tersebut kata Budana sempat hilang semalaman dan saat kembali pulang, beberapa hari kemudian menunjukkan gejala agresif seperti menggigit benda-benda disekelilingnya.

Pemilik anjing kemudian melaporkannya kepada petugas setempat dan sampel otak anjing diambil, Rabu (4/4) lalu. ’’Hasilnya keluar  Sabtu (7/4) dan positif,’’ ujar Budana.

Karena diketahui dari awal, korban gigitan manusia dapat dicegah dan tidak sampai terjadi. Untuk mencegah virus ini semakin meluas kepada HPR lain dan mencegah terjadinya gigitan dari HPR positif ke manusia, tim kabupaten bekerjasama dengan satgas desa menggelar eleminasi pada Sabtu (7/4). Selain eleminasi juga akan digelar vaksinasi untuk HPR di Desa Beraban pada Sabtu (14/4) dan Minggu (15/4) mendatang.

Kasi Kesehatan Hewan Dinas Pertanian, Drh I Gusti Ngurah Wiksuara menambahkan dari kegiatan eleminasi, tim mengeleminasi sebanyak 75 ekor anjing dan kemudian dikuburkan di Pantai Nyanyi. Sasaran eleminasi sendiri adalah di Desa Beraban Kediri yang menjadi zona merah untuk penularan rabies. ‘’Yang dieleminasi adalah anjing liar maupun anjing yang diliarkan,’’ujarnya.

Baca juga:  Cegah Rabies, 52 Ribu Anjing di Bangli Akan Divaksin

Ia menambahkan di Desa Beraban Kediri, lokasi yang paling banyak ditemukan populasi anjing liar adalah di pantai Nyanyi. Hal ini dikarenakan pantai menjadi lokasi yang strategis bagi masyarakat yang hendak membuang anjing.’’Karenanya populasi anjing liar di pantai Nyanyi cukup banyak karena menjadi tempat membuang anjing yang tidak dikehendaki oleh pemiliknya,’’ papar Wiksuara.

Mengenai keberhasilan warga di Desa Beraban mendektesi dini anjing positif rabies sehingga mencegah anjing mengigit manusia menurut Wiksuara ada baiknya masyarakat mengetahui gejala-gejala umum anjing yang terinfenksi rabies. Jika terifeksi virus gejala awal yang ditunjukkan anjing adalah takut pada sinar. Biasanya mereka tidak mengenali tuannya lagi serta bersembunyi ditempat gelap. Tahap selanjutnya anjing kemudian mulai bertindak agresif dengan menggigit benda maupun siapa saja yang ada didekatnya disertai air liur yang keluar secara berlebihan dan ekor melengkung ke dalam perut.Tahap akhir anjing akan mengalami kejang-kejang, kelumpuhan dan kemudian mati.

’’Jika melihat anjing mulai takut pada sinar dan bersembunyi ditempat gelap serta tidak ada respon ketika dipanggil tuannya, segera laporkan ke petugas terdekat. Jika sudah mengamuk jangan mendekat untuk menghindari gigitan,’’ jelas Wiksuara. (wira sanjiwani/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.