objek wisata
Abrasi mulai menggerus kawasan Objek Wisata Karang Sewu Gilimanuk. (BP/kmb)

NEGARA, BALIPOST.com – Penataan objek wisata di Daerah Tujuan Wisata (DTW) Gilimanuk mulai dilakukan. Promosi juga sudah gencar dilakukan. Namun pengembangan objek wisata mulai menghadapi permasalahan. Tidak hanya rusak dan kurangnya sejumlah sarana dan prasarana serta sampah kiriman maupun yang dibuang sembarangan, abrasi juga menjadi ancaman.

Jika sebelumnya abrasi terjadi di teluk Gilimanuk sisi sebelah barat dan dekat dengan Pura Segara, dan wilayah Jineng Agung, kini mulai terjadi di kawasan objek wisata Karang Sewu. Sisi Utara objek wisata ini mulai terkikis abrasi.

Hingga saat ini pihak Taman Nasional Bali Barat (TNBB) sebagai pengelola kawasan belum menindaklanjuti abrasi yang mengancam Karang Sewu tersebut.

Dari Pengamatan Selasa (30/1) kondisi bibir pantai Karang Sewu yang berada di sisi Utara ini tampak kian memprihatinkan. Gerusan abrasi ini juga “memakan” pagar pembatas Museum Manusia Purba Gilimanuk hingga nyaris ambrol. Demikian juga belakang ini, bakau di Karang Sewu juga tanahnya tergerus cukup jauh.

Slamet (45) warga Gilimanuk mengatakan abrasi yang mengikis sisi Utara Karang Sewu ini terjadi sekitar tahun 2009 silam. Semenjak itu pula kondisi bibir pantai ini belum pernah ditangani oleh pengelola kawasan yakni pihak TNBB sehingga kini menjadi kian parah. Sementara yang terlindungi dari gerusan abrasi hanya di sisi selatan jembatan jeti.

Baca juga:  Perlu Ratusan Miliar Rupiah Atasi Abrasi di Pebuahan

Pihak TNBB melalui Kasubbag T.U TNBB, Wiryawan mengatakan wilayah yang terdampak abrasi tersebut sudah masuk dalam kajian dan rencananya akan segera ditangani.

Menurutnya ke depan pihaknya berencana akan menangani bibir pantai tersebut dengan membuat tanggul penahan abrasi. Pihaknya belum bisa memastikan apakah nantinya tanggul penahan abrasi tersebut akan dibuat secara permanen atau dibuat dari patok bambu yang menyerupai pagar. Dikatakan, bibir pantai yang terdampak abrasi ini berada agak jauh dari kawasan utama Karang Sewu yang berada sekitar 200 meter di sisi Utara.

Namun selain abrasi di lokasi tersebut, abrasi juga menggerus titik lainnya di Karang Sewu seperti di sekitar dermaga jeti setempat. Abrasi yang menggerus Karang Sewu ini kian parah lantaran buruknya cuaca yang memengaruhi kondisi pasang surut air laut setempat.

Menurut Wirawan, paling parah tahun 2017 lalu, sekitar bulan Agustus dengan gelombang tinggi air laut sehingga bibir pantainya tergerus makin ke dalam. Menurutnya nantinya akan ditangani supaya bibir pantai kembali ke bentuk semula. (kmb/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.