NEGARA, BALIPOST.com – Sudah dua bulan ini Lapangan Umum Pecangakan diramaikan dengan sosok jaran (kuda) berwarna putih berlari berkeliling setiap pagi. Kuda jantan ini merupakan aset Pemerintah Kabupaten Jembrana yang didatangkan dari Bandung, Jawa Barat sejak November lalu. 

Pemerintah lewat Dinas Pertanian dan Pangan sengaja mengembangkan kuda yang konon melekat dengan Jembrana ini. Bila cocok, kuda pacuan ini akan dikembangbiakan lebih banyak.

Istal (kandang kuda) berbahan tembok dan kayu ini berada di sisi Utara Lapangan, tepatnya di  sisi luar Pura Ulun Pecangakan. Pemeliharaannya pun tidak sembarangan, disiagakan satu petugas khusus untuk perawatan tiap harinya.

Selain bertugas membersihkan Istal, memandikan dan memberi makanan setiap hari, petugas ini bertugas menunggangi kuda. “Tiap dua minggu sekali, lantai kandang dari serbuk kayu ini diganti. Makanan juga khusus tiga kali sehari,” ujar Putu Agus Sudiadnyana (20), petugas pemelihara kuda.

Walaupun tiap hari, pemuda asal Desa Baluk ini mengaku sangat menikmati pekerjaan tersebut. Sejak remaja, pemuda lulusan SMK Negeri ini mengaku senang berbaur dengan hewan salah satunya misa untuk Makepung.

Ketika ditugaskan memelihara Kuda, Agus tidak terlalu canggung. Apalagi kuda pacuan yang berumur kurang lebih tujuh tahun ini sudah jinak.

Tiap pagi, setelah dimandikan dan berjemur, kuda pacuan ini juga ditunggangi mengelilingi Lapangan Pecangakan. Kuda ini dinamai Jaran Bana Rana. Konon sosok kuda tinggi gagah berwarna putih merupakan tunggangan Raja Pecangakan,  I Gusti Ngurah Gde Pecangakan.

Kerajaan Pecangakan yang konon mashyur ini erat kaitannya dengan Kerajaan Bakungan yang berada di Gilimanuk. Patung sosok pria  menunggangi kuda dengan kaki depan terangkat di areal Taman Pecangakan, tepatnya pinggir jalan Denpasar-Gilimanuk merupakan gambaran Raja Pecangakan. Warga kerap menyebutnya patung kuda.

Sejatinya patung itu merupakan patung Raja I Gusti Ngurah Gde Pecangakan yang menaiki kuda kesayangannya, Bana Rana. Karena itu, sengaja saat ini kuda yang menjadi ikon ini dicari berwarna putih dan jenis kuda pacuan.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan, Wayan Sutama mengatakan kuda itu merupakan aset pemerintah yang dikelola dinas. Didatangkannya kuda itu tidak lain untuk melestarikan kuda yang erat kaitannya dengan Jembrana.

Sehingga masyarakat tidak hanya melihat dari patung saja, tetapi juga ikon itu memang ada wujudnya. “Nanti di saat-saat tertentu, kuda ini akan keluar seperti acara seremonial pemerintah,” ujarnya.

Tidak menutup kemungkinan, kuda ini akan dikembangbiakan sehingga terus ada. Masyarakat dapat melihat langsung kuda yang dulunya sempat eksis di Jembrana ini. (Surya Dharma/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.