DENPASAR, BALIPOST.com – Setelah 40 tahun berkarya, desainer perhiasan Sotjawaruni Kumala Palar atau yang kerap disapa Runi Palar, menuangkan perjalanan karyanya dalam sebuah buku “Dancing in Silver The Jewellery of Runi Palar.” Buku tersebut menceritakan tentang perjalanan karir perempuan berkelahiran Pujokusuman, Yogyakarta pada 1946 yang diawali dari sebagai seorang penari klasik hingga menjadi seorang desainer perhiasan terkenal.

Dalam buku yang ditulis Bruce W Carpenter juga ditampilkan sejumlah foto karya desain perhiasan. Mendesain sebuah perhiasan merupakan hal yang tidak mudah, apalagi desain tersebut bisa mendunia.

Hal tersebut sampaikan Runi Palar disela-sela acara peluncuran buku Dancing in Silver di Griya Santrian, Sanur, Denpasar, Jumat (29/12) malam. Di dalam berkarya, ia mengaku tidak terpaku pada desain yang telah ada, dan selalu mencari hal yang lain. Itulah yang membuat sejumlah pecinta perhiasan di Jepang mengakui ke unikan desainnya.

Selain itu, ia juga berusaha untuk menciptakan disain perhiasan yang mampu disandingkan dengan berbagai jenis pakaian. Seperti cocok digunakan saat mengenakan pakaian kebaya maupun berbahan jin.

Inspirasi biasanya diambil dari nature atau alam di sekitar. Seperti batu, kayu, daun dan etnik atau budaya suatu daerah. Namun tetap berpegang pada moto beautiful simplification, mengambil sesuatu yang selalu simpel.

Istri dari Adrian Palar ini menambahkan bahwa dulunya ia merupakan seorang penari. Yang kemudian beralih untuk mendesain perhiasan.

Dengan modal dari penyisihan uang belanja, ia mendesain perhiasan berbahan perak. Perjalanan yang sangat panjang, usahanya mengalami perkembangan dan desain perhiasannya pun tidak terbatas pada perak saja.

Baca juga:  Tarik Wisatawan, Desa Ini Andalkan "Setra" Ari-ari

Dari ribuan karya perhiasan yang telah diciptakan, hanya sekitar empat ratus desain yang ditampilkan dalam buku “Dancing in Silver.” Pemilik Museum Runa, Ubud ini berharap buku tersebut bisa dibaca semua orang, bahkan di dunia. Dan menjadi inspirasi bagi anak muda di Indonesia pada umumnya.

Dalam peluncuran buku tersebut turut hadir IB Sidharta Putra, Cokorda Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace), Wakil Konjen Jepang, Prof Made Bandem dan undangan lainnya.

Penglingsir Puri Ubud Cok Ace menyampaikan rasa bangga atas diluncurkannya buku pertama dari Runi Palar tersebut. Ini menunjukkan juga pada dunia internasional bahwa kapasitas Bali dalam seni perak juga cukup bersaing. “Ketika berbicara perak, bayangan kita pasti pada desainer internasional. Tapi ternyata kita punya potensi, dan lebih bersyukur lagi kejadian ini di Bali. Jadi ini menambah lagi kekayaan Bali sebagai destinasi,” terangnya.

Mengenai desainer perak di Bali, Cok Ace menambahkan sebenarnya bakat di Bali cukup besar. Namun sementara ini mereka kebanyakan masih manual.

Bersyukur juga sejumlah perajin di Celuk, Gianyar sudah kembali bersemangat, dan silvernya mulai menggeliat lagi dengan mengombinasikan pembuatannya menggunakan mesin dan manual. Ia yakin suatu saat nanti perajin perak Bali akan bangkit kembali, apalagi telah didukung oleh teman-teman di luar Bali yang sudah sangat berpengalaman. (Eka Adhiyasa/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.