DBD
Ilustrasi. (BP/dok)
BANGLI, BALIPOST.com – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Bangli hingga November 2017 mencapai 292 kasus. Dibandingkan tahun 2016, kasus yang diakibatkan gigitan nyamuk Aedes Aegypti itu jauh menurun drastis. Pada tahun lalu, kasus DBD di Bangli mencapai 1.252 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan Bangli I Nengah Nadi, Selasa (26/12) menyatakan kasus penderita DBD di Bangli jumlahnya paling sedikit ketimbang kabupaten/kota di Bali. Menurut Nadi, untuk menekan kasus DBD di Bangli pihaknya telah melakukan berbagai upaya, salah satunya melaksanakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).

Kata dia, langkah itu dilakukan sebagai upaya untuk memperpendek ruang gerak nyamuk berkembang biak. Selain itu pihaknya juga akan melakukan sosialisasi serta melaksanakan Gerakan Serentak (Gertak) yang melibatkan siswa serta masyarakat. “Kita melakukan kegiatan penangganan kasus DBD secara terpadu. Salah satu yang paling efektif adalah PSM. Dan kita sudah melakukan sosialisasi ke masyarakat. Selain itu kita juga melakukan abatisasi atau pemberian bubuk abate,” ucapnya.

Dijelaskannya, kalau ada laporan dari puskesmas maupun rumah sakit ada kasus indikasi penularan DBD di lapangan, petugas dari puskesmas melakukan Penyelidikan Etemologi (PE). Kata dia, setelah dilakukan PE tersebut, kalau ada positif jentik-jentik Aedes Aegypti, dan protap lainnya maka akan dilakukan fogging di daerah di sekitar. “Kita sudah lakukan fogging jika ada kasus DBD di tempat tersebut. Kalau melakkan fogging tanpa adanya kasus jadi kurang efektif. Disamping itu juga akan menimbulkan pencemaran. Jadi kita intinya tetap mengatensi untuk melakukan kewaspadaan dan pencegahan kasus DBD ini,” jelasnya.

Baca juga:  Gara-gara Ini, Petani Cabai Demulih Gagal Panen

Guna menekan kasus ini semakin tinggi, pihaknya mengimbau kepada seluruh masyarakat Bangli supaya bisa melakukan kerja bakti untuk memberantas sarang nyamuk di sekitar rumah mereka masing-masing. Sebab, langkah itu yang paling efektif untuk menekan kasus ini semakin berkembang.

Dia juga meminta, jika ada warga yang merasa merasa sakit panas berkelanjutan supaya segara memeriksakan diri ke puskesmas atau rumah sakit terdekat. Apalagi cuaca yang tidak menentu seperti ini akan sangat mempengaruhi berkembangbiaknya nyamuk aedes aegypti. (Eka Parananda/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.