pelajar
Direktur Lantas Polda Bali Kombes Pol. Anak Agung Made Sudana. (BP/ken)
DENPASAR, BALIPOST.com – Pelajar, pengendara dibawa umur, dan parkir sembarangan akan menjadi target dalam kegaitan operasi Zebra 2017. Hal ini sebagaimana hasil rapat internal Direktorat Lalu Lintas (Lantas) Polda Bali sebagai kesiapan.

Direktur Lantas Polda Bali Kombes Pol. Anak Agung Made Sudana, Rabu (25/10) mengatakan, Operasi Zebra dijadwalkan dilaksanakan akhir bulan Oktober.

Menurut Kombes Sudana, ada tiga target sasaran dalam operasi ini, yaitu parkir badan jalan, pelanggaran yang berpotensi menimbulkan kecelakaan serta sosialisasi ke sekolah-sekolah. “Karena sampai saat ini masih banyak pelajar di bawah umur yang diberikan sepeda motor oleh orangtuanya. Padahal tindakan itu beresiko karena bisa mencelakakan anak tersebut. Padahal sudah jelas aturannya anak di bawah umur tidak boleh mengendarai kendaraan,” tegasnya, usai memimpin rapat di Gedung Direktorat Lantas di Jalan WR Supratman, Denpasar Timur.

Tujuan dilaksanakan rapat internal tersebut, kata mantan Kapolresta Denpasar ini, untuk membahas perkembangan situasi lalulintas saat ini. Dalam rapat tersebut terungkap jika sampai saat ini, parkir kendaraan di badan jalan dinilai sebagai biang kemacetan. Oleh karena itu selama operasi ini, kendaraan parkir di badan jalan akan ditertibkan. Terutama saat pasar tumpah.

“Pasar tumpah itu biasanya terjadi di Sanglah, Kuta dan Veteran. Di sana masih ada kendaraan parkir di badan jalan dan akan kita tertibkan karena bagaimanapun sesuai undang-undang badan jalan bukan untuk tempat parkir. Juga trotoar bukan untuk tempat berjualan,” tegas mantan Kabid Humas Polda Bali ini.

Baca juga:  Juru Pakir Terminal Ditangkap Saber Pungli

Masalah kecelakaan maupun kemacetan, tegas mantan Kabid Propam Polda Bali ini, mendapat atensi khusus karena dalam waktu dekat akan digelar IMF dan World Bank tahun 2018. Oleh karena itu pihaknya berusaha maksimal agar para tamu dan delegasi yang datang ke Bali merasa aman dan nyaman. Terutama saat mereka mengunjungi tempat wisata di Bali.

Selain kemacetan, menurut Sudana, anggota Subdit Dikyasa Direktorat Lalu Lintas juga melaksanakan sosialisasi ke sekolah-sekolah melalui program Goes to School. Program ini juga tidak kalah penting mengingat banyaknya korban kecelakaan menimpa remaja. “Sebenarnya program ini sudah berjalan, tapi saat ini kita intensifkan lagi. Anggota kami masuk ke sekolah-sekolah menjadi Irup (inspektur upacara) di sekolah setiap Senin dan menyampaikan sosialisasi tertib lalulintas,” ujarnya.

Mantan Kapolres Tabanan ini mengungkapkan, selama ini orangtua memberikan anaknya sepeda motor padahal masih di bawah umur. Akibatnya mereka berangkat ke sekolah naik sepeda motor. “Kalau belum punya SIM, itu artinya tidak boleh naik sepeda motor atau mobil. Oleh karena itu perlu diberikan pahaman kepada para orangtua, kalau anak belum cukup umur jangan dibelikan kendaraan. kewajiban orangtua untuk mengantar. Begitu juga kami sebagai aparat harus mencegah anak tidak punya SIM berkendara di jalan raya sehingga tidak ada pembiaran. Para guru pun kami harapkan menyadarkan anak didiknya supaya tidak naik motor kalau belum punya SIM,” tegas perwira yang lama bertugas di Polda Metro Jaya, Jakarta ini. (kerta negara/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.