Nyoman Suwarjoni Astawa. (BP/dir)
DENPASAR, BALIPOST.com – PLN Distribusi Bali saat ini terus melakukan pemetaan terhadap jaringan dan pelanggan yang berpotensi terdampak peningkatan aktivitas Gunung Agung. Pemetaan bahkan telah dilakukan termasuk dalam mengantisipasi kemungkinan terburuk. “Mengantisipasi kemungkinan terburuk, kami telah siapkan sejumlah pilihan solusi. PLN berupaya maksimal agar dampak status awas ini bisa dieliminir,” ujar General Manager PLN Distribusi Bali Nyoman Suwarjoni Astawa, saat bertemu dengan sejumlah redaksi media massa, Senin (2/10).

Pria kelahiran Desa Bubunan, Buleleng yang baru sekitar satu bulan bertugas di Bali ini mengatakan jika Gunung Agung erupsi, gardu Induk yang ada di wilayah Karangasem akan padam. Itu artinya, Karangsem berportensi gelap. “Strategi yang ditempuh untuk mengantisipasi hal ini adalah menyiapkan sejumlah genset dan menarik jaringan dari Gardu induk di Gianyar. Bahkan, posko-posko pengungsian dijamin bisa diterangi,” ujar pria yang sempat bertugas keliling Indonesia ini.

Dijelaskannya ada sekitar 13 ribu pelanggan di wilayah terdampak yang akan mengalami gangguan. Jika benar-benar terjadi erupsi, rekening listrik pelanggan akan diputus dan dijamin akan dilayani secara gratis saat pasang baru.

Dikatakannya dari 26 posko pengungsian resmi, 13 sudah disiapkan genset. Sedangkan posko lainnya akan disiapkan cadangan listrik dari gardu induk terdekat. Sedangkan dari jumlah pos pengungsi, PLN sudah melakukan kunjungan ke 134 posko. “PLN pada intinya akan melakukan koordinasi dan solusi terbaik,” jelasnya.

Baca juga:  Jabali Crossing, Daya 2.500 MW akan Masuk ke Bali

Sementara itu, terkait dengan rencana pembangunan sambungan transmisi listrik di atas laut yang menghubungkan kelistrikan Pulau Jawa dan Bali yakni pembangunan jaringan Sambungan Udara Tegangan Ekstra Tinggi Jawa-Bali Crossing itu menjadi salah satu upaya PLN memastikan pasokan pasokan listrik di Bali terjamin. “Dalam penjabaran rencana ini, PLN berharap ada dialog dan ruang diskusi. PLN tentu akan melakukan langkah terbaik untuk bisa menjadikan Bali mandiri dalam penyiapan energi,” jelasnya.

Ia mengatakan pertumbunhan konsumsi listrik di Bali di atas rata-rata pertumbuhan konsumsi listrik secara nasional. Pertumbuhan di Bali pada 2016 mencapai 11 persen, sedangkan secara nasional berkisar 8,6 persen. Saat ini, selain mengandalkan pembangkit listrik yang ada di Bali, Bali juga dipasok listrik dari Jawa melalui jaringan kabel listrik bawah laut.

Daya listrik tersedia di Bali mencapai 1.300 megawatt (MW). Saat beban puncak, kebutuhan Bali mencapai sekitar 846 MW. Sedangkan cadangan listrik di Bali mencapai sekitar 400 MW. “Kami tetap berharap PLN memiliki ruang diskusi dengan para pihak agar program ini bisa dicarikan solusi. Pengadaan energi bagi Bali tetap harus pemikiran bersama agar Bali bisa aman dari cadangan energi listrik,” ujarnya pria yang baru dilantik sebagai GM PLN Distribusi 22 Agustus lalu ini. (Dira Arsana/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.