SLAWI, BALIPOST.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tegal, Jawa Tengah (Jateng) makin menyadari arti penting desa wisata untuk mendongkrak pendapatan asli daerah (PAD). Karena itu, Pemkab Tegal berusaha mengembangkan desa wisata sebanyak mungkin.

Beberapa desa wisata itu akan dikembangkan dengan berbagai fokus. Di antaranya, desa wisata religi, desa wisata sayur, desa wisata alam, dan desa wisata purbakala.

Untuk pengembangan desa wisata religi, pemkab akan melakukannya di kawasan Cikura, Giren, Kalisoka, dan Danawarih. Sementara itu, desa wisata sayur akan dikembangkan di Desa Cigedong.

Sedangkan desa wisata batik akan dipusatkan di Desa Bengle, Kecamatan Talang. Di sisi lain, desa wisata alam dan desa wisata purbakala masing-masing dikembangkan di Bumijawa dan Semedo.

Kabid Pemasaran Pengembangan Produk Wisata Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Siti Fazilah mengatakan, rintisan desa wisata telah dilakukan oleh Bupati Enthus Susmono di Desa Cempaka, Kecamatan Bumijawa.

“Pencanangan desa wisata tidak pernah terbentuk tanpa adanya kemauan, kemampuan, dan giat masyarakat dalam mengelola objek wisata yang dimilikinya. Untuk membentuk desa wisata perlu diawali dengan pembentukan kelompok sadar wisata (pokdarwis),” tutur Siti beberapa waktu lalu.

Baca juga:  Fasilitas Mega Cruise di Port Celukan Bawang Siap Dibangun Desember 2017

Menurut Siti, Desa Cempaka dipilih sebagai rintisan karena pokdarwis desa itu menjadi juara favorit tingkat Provinsi Jateng. Pokdarwis Desa Cempaka juga menjuarai lomba yel-yel pariwisata level Jateng.

Desa Cempaka juga memiliki potensi alam, yakni Tuk Mudal yang sudah menjadi tujuan travelista. Ada juga Bukit Bulak Cempaka (BBC) yang menjadi salah satu tujuan favorit anak muda untuk berswafoto atau selfie. “Dengan munculnya destinasi wisata Bukit Bulak Cempaka, pendapatan desa meningkat melalui restribusi parkir wisatawan,” imbuh Siti.

Dia menambahkan, produk yang dihasilkan masyarakat Desa Cempaka juga menjadi daya tarik wisatawan. Di antaranya, kerajinan dari bambu seperti kentongan.

Menpar Arief Yahya menambahkan, jika amenitas dan atraksi sudah punya, berupa desa wisata dan homestay, maka yang perlu dipikirkan adalah pengelolaan. “Pertama, harus dipisahkan antara kepemilikan dan pengelolaan. Kedua, pengelolaannya harus menggunakan cara korporasi, bukam dengan koperasi. Ketiga, gunakan digital untuk menjual produk dan mempromosikannya,” jelas Arief Yahya. (kmb/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.