gerebek
Warga Desa Sraten, Kecamatan Cluring, Banyuwangi mengarak tumpeng dalam ritual 1 Suro, Selasa (20/9). (BP/udi)
BANYUWANGI, BALIPOST.com – Tahun baru Jawa yang ditandai dengan 1 Suro menjadi hari sakral di Jawa, termasuk Banyuwangi. Menyambut I Suro, sejumlah desa di Banyuwangi menggelar tradisi unik. Salah satunya, gerebek tumpeng. Seperti di Desa Kepundungan, Kecamatan Srono dan Desa Sraten, Kecamatan Cluring, Selasa (20/9) sore.

Di Desa Kepundungan, warga mengarak 20 tumpeng raksasa. Isinya beragam. Mulai nasi hingga hasil bumi. Seluruhnya diarak keliling kampung setempat. Setelah selesai diarak, warga berebut gunungan hasil bumi. Dipercaya, gunungan ini bisa membawa berkah. Termasuk, tolak balak selama menjalani bulan Suro dalam penanggalan Jawa. “Ini tradisi turun temurun yang selalu kami lestarikan. Tujuannya untuk tolak balak dan meminta kerahayuan selama bulan Suro,” kata Andre Subandrio, salah satu tokoh warga Desa Kepundungan.

Pria ini menceritakan, dahulu nenek moyang warga setempat yang mayoritas petani pernah diserang hama ular. Akhirnya, sesepuh warga mendapatkan ptunjuk agar menggelar gerebek tumpeng. Keajaiban muncul. Setelah ritual gerebek, hama ular menghilang. “Nama dusun di sini Pekulo artinya kebek ulo (penuh ular-red). Tapi, setelah ritual gerebek, hama tak muncul lagi,” jelasnya.

Baca juga:  Wisatawan Asing Pun Ikut Asyik Nikmati Tumpeng

Sejak itulah, tradisi gerebek tumpeng rutin digelar setiap tahun. Bedanya, beberapa tahun terakhir dibuat lebih meriah. Waktunya selalu H-1 Suro dalam penanggalan Jawa. Tujuannya, sebelum memasuki bulan Suro, masyarakat diberikan keselamatan.

Tradisi serupa juga digelar warga Dusun Kedawung, Desa Sraten, Kecamatan Cluring. Warga menggelar arak-arakan tumpeng dan ancak (tumpeng di atas pelepah pisang). Total mencapai 1000 ancak. Tradisi ini juga meminta berkah keselamatan. Bedanya, warga mengisi ritual dengan nyekar ke makam Prabu Tawangalun dan Mbah Gitik yang diyakini patih dari Prabu Tawangalun. Bagi warga Banyuwangi, Prabu Tawangalun dikenal sebagai trah terakhir kerajaan Blambangan. Bahkan, yang berani mengobarkan peperangan melawan Belanda.

“Di sini ada makam Prabu Tawangalun. Memasuki bulan Suro, kami memohon berkah kesalamatan dengan nyekar bersama warga,” kata Kades Sraten, H. Rahman.

Menurutnya, tradisi ini tak pernah ditinggalkan warga selama memasuki bulan Suro. Harapannya, warga mendapatkan berkah keselamatan selama memasuki tahun baru Hijriah atau penanggalan Jawa. (budi wiriyanto/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.