JAKARTA, BALIPOST.com – SEA Games 2017 di Malaysia menjadi gambaran terburuk bagi Indonesia. Upaya untuk meningkatkan prestasi justru membuat Indonesia harus puas di posisi kelima.

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi meminta maaf atas tidak tercapainya target perolehan medali Indonesia di SEA Games 2017. Ia juga akan bertanggung jawab atas kegagalan tersebut.

“Tidak terpenuhinya target dan perkembangan yang terjadi, bahkan desakan dari seluruh rakyat Indonesia, selain minta maaf barang tentu kami akan melakukan langkah besar, upaya besar, bekerja sama dengan stakeholder olahraga karena ini harga diri bangsa yang harus ditangani serius,” ujar Imam.

Ia mengatakan sudah mengindentifikasi persoalan SEA Games 2017. Ia mengatakan akan melakukan terobosan, baik pendanaan maupun persoalan teknis lainnya. “Penyelesaian masalah ini harus dilakukan secara menyeluruh. Hal ini akan saya lakukan dengan terobosan yang tidak melanggar peraturan yang berlaku,” katanya.

Ia mengutarakan ke depan, pendanaan olahraga tidak lagi berasal dari pemerintah. Alasannya, pendanaan dari pemerintah memerlukan prosedur yang harus ditaati.

Baca juga:  Di Markas Besar PBB, Menpora Bicara Pentingnya Peran Pemuda

Masalah olahraga disebut Imam tidak bisa diselesaikan secara parsial melainkan secara menyeluruh. Salah satunya dengan membuat terobosan kebijakan baru yang tidak melanggar aturan.

Soal pendanaan olahraga, ke depan Imam mengaskan tidak akan berpangku tangan pada dana dari APBN. Sebab dari segi pembiayaan, olahraga perlu fleksibilitas karena dinamika yang muncul di dalamnya begitu cepat.

“Sementara kita harus tertib dan disiplin administrasi. Kalau tidak, ada soal hukum di dalamnya. Ke depan, kami akan melibatkan masyarakat yang lebih luas, swasta dan donasi lain yang akan diakomodir lewat lembaga pendanaan olahraga yang dibentuk pemerintah,” ucap Imam.

Terkait pembinaan atlet, Menpora Imam mengatakan akan memaksimalkan dan memaksakan cabor untuk memakai fasilitas olahraga pasca PON (Pekan Olahraga Nasional) yang ada di Pekanbaru, Bandung, maupun Palembang.

Hal itu dimaksudkan agar kontrol perkembangan atlet bisa lebih mudah. Termasuk pengawasan dari segi nutrisi dan logistik kebutuhan dan fasilitas atlet. (kmb/balitv)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.