Prof. Dr. Putu Gelgel. (BP/par)
DENPASAR, BALIPOST.com – Nasionalisme kini terus didengung-dengungkan oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Hanya saja kondisi di lapangan jauh menyimpang dari paham tersebut. Karena itu, paham nasionalisme diharapkan tidak hanya menjadi euforia semata, namun benar-benar diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat.

Direktur Program Pascasarjana Unhi Prof. Dr. Putu Gelgel dalam diskusi budaya yang mengambil tema “Memaknai Nilai-nilai Kearifan Lokal dalam Membangkitkan Nasionalisme,” Jumat (4/8), mengakui masih ada diskriminasi terhadap kelompok atau komunitas tertentu. Padahal, dalam nasionalisme ada paham kebhinekaan yakni menghormati kemajemukan.
“Contohnya, diskriminasi terhadap Agama Hindu luar biasa masih terjadi. Sehingga saya harapkan menciptakan nasionalisme dari Bali harus diwujudkan tidak sekadar euforia,” ujarnya.

Menurutnya, masyarakat Bali sangat menjujung tinggi paham nasionalisme. Ini dibuktikan oleh masyarakat Bali dengan menerima kemajemukan dan mampu hidup rukun dalam kemajemukan. “Masyarakat Bali kita pernah mengusulkan pengadilan Agama Hindu. Karena kita menjunjung tinggi rasa nasionalisme kita serahkan ke pengadilan negeri yang sudah ada,” ujarnya.

Baca juga:  Radikalisme, Wabah Penyakit yang Gerogoti Sendi-sendi Pancasila
Menjujung rasa nasionalisme, kata Prof. Putu Gegel juga terlihat dari keterbukaan masyarakat Bali terhadap pendatang. “Contonya, kita menyebut orang di luar Bali, nyame (sodara, red), tapi sekarang bergeser menjadi jlema (manusia, red). Ini adalah bentuk pergeseran yang mulai menyimpang dari paham nasionalisme,” jelasnya.

AA Agung Suryawan dari Paiketan Krama Bali, juga mengakui terjadi pergeseran nasionalisme dengan mulai mempetak-petakkan diri. “Dulu waktu saya sekolah, laki-laki dan perempuan duduk berbaur, kalau sekarang mulai dibeda-bedakan. Tentunya hal ini mengesampingkan paham nasionalisme,” katanya.

Dia berharap, dharma negara dan dharma agama tidak menjadi petentangan. (Parwata/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.