Ilustrasi suasana pelaksanaan masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS). (BP/dok)
SINGARAJA, BALIPOST.com – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) SMA dan SMK di Buleleng diwarnai kegiatan yang diduga mengarah perploncoan. Dugaan itu muncul setelah ada orangtua siswa yang mengeluh.

Meski tak mau disebutkan identitasnya, dari keluhan yang masuk ke redaksi balipost online, diketahui bahwa terdapat siswa baru yang menjalani MPLS mulai Rabu (12/7) hingga Jumat (14/7) ini diperintahkan membawa sejumlah perlengkapan yang tidak wajar. Beberapa jenis makanan dan minuman dengan kode khusus, seperti roti nego, snack angin puyuh, snack pesawat terbang alfabet, air desa, dan air darah membuat para orangtua juga ikut pusing mendapatkannya.

Tidak itu saja, siswa juga diwajibkan membawa buku tulis dengan jumlah lembar kertas ganjil dan tidak diizinkan merobek atau menempel agar jumlah lembarannya berjumlah bilangan ganjil. Sementara, setelah dicari hampir semua buku tulis jumlah lembarannya genap.

Orangtua pun mempertanyakan alasan sekolah menugaskan siswa membawa perlengkapan yang terkesan aneh-aneh itu. Terlebih jika tidak dipenuhi ada sanksi kepada siswa.

Dikonfirmasi terkait keluhan ini, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Bali di Kabupaten Buleleng Wayan Suwarja mengatakan, pihaknya secara resmi belum mendapat informasi terkait dugaan MPLS yang memberatkan siswa baru. Dikatakan, MPLS hingga Kamis masih berjalan dengan lancar, tertib dan sekolah telah mengikuti pedoman yang sudah ditentukan. “Kegiatan MPLS berjalan dan sekarang tidak ada informasi itu. Tapi kami berterimakasih ada yang melaporkan dan ini akan kami telusuri sambil mengevaluasi pelaksanaan MPLS,” katanya.

Baca juga:  SMAN 5 Mataram Menangi AXIS Hitzvidz

Terkait informasi siswa diminta membawa perlengkapan yang tidak wajar itu, UPT Disdikpora Bali berjanji akan menelusuri kebenaran informasi tersebut. Jika memang ditemukan sekolah mewajibkan siswa baru membawa perlengkapan yang tidak semestinya, UPT akan memberi peringatan pada sekolah bersangkutan.

Sikap ini karena kegiatan MPLS yang memberatkan siswa melanggar ketentuan dan tidak tidak dinyatakan mendidik sikap dan mental siswa baru di sekolah. “Panduan sudah ada dan kami minta itu diikuti. Kalau memang kami temukan, nanti sekolah akan kami peringatkan karena kegiatannya bukan mendidik sikap mental anak-anak, tetapi justru memberatkan dan menganggu kenyamanan siswa mengikuti MPLS,” tegasnya. (Mudiarta/balipost)

2 KOMENTAR

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.