situs
Terlihat sejumlah peneliti sedang melakukan penggalian di Situs Wasan, Banjar Blahtanah, Desa Batuan Kaler, Sukawati. (BP/nik)
GIANYAR,BALIPOST.com – Penelitian di Situs Candi Wasan, Pure Puseh Wasan, Banjar Blahtanah, Desa Batuan Kaler, Sukawati kembali berlanjut. Penelitian kali ini merupakan yang ke 24 kalinya dilakukan Balai Arkeologi Bali, NTB, dan NTT di lokasi tersebut. Bila semua terungkap, Situs Wasan diharapkan bisa menjadi daya tarik wisata.

Kepala Balai Arkeologi Bali NTB, dan NTT, Drs I Gusti Made Suarbawa, menjelaskan penelitian ini sudah dilakukan sejak Sabtu (10/6) dan akan berlangsung selama 14 hari hingga Jumat (23/6) mendatang. “ Penelitian kali ini melibatkan 12 peneliti, bertujuan untuk mencari bangunan-bangunan pendukung Candi Wasan,“ ucapnya saat ditemui di wantilan Pura Puseh Wasan, Selasa (13/6).

Dikatakan, penelitian ini merupakan kelanjutan dari hasil temuan tahun 2016. Waktu itu ditemukan beberapa struktur bangunan yang berbahan batu padas (tufa). Sementara itu selama dua hari penelitian kali ini, pihaknya belum bisa memprediksi jenis bangunan-bangunan yang mendukung Situs Candi Wasan ini. “Masih tahap penggalian, sementara belum kita ketahui jenis bangunannya, “ katanya.

Namun bila melihat dari tekstur tanahnya, menurut Suarbawa diperkirakan bangunan ini sempat tertimbun akibat bencana banjir bandang. Dikatakan jenis tanah apung dilokasi tersebut juga mengindikasikan, bahwa di daerah ini juga terkena dampak abu vulkanis dari meletusnya Gunung Rinjani di Lombok jaman dulu.

Menurut Suarbawa, kompleks Situs Candi Wasan diperkirakan berasal dari abad XIII-XIV Masehi didasarkan atas langgam arca yang ditemukan di situs Wasan, seperti arca Brahma Catur Muka, perwujudan Bhatara-Bhatari dan arca Nandhi yang lapiknya berhiaskan tengkorak. Selain itu, juga ditemukan arca Ganesa, Lingga-Yoni, arca perwujudan dan arca binatang.

Diungkapkan bahwa berbagai temuan di Situs Candi Wasan ini tak terlepas dari peranan seorang tokoh peneliti Belanda JC Krishman yang pertama mengunjungi situs Wasan pada 1950. Ketika itu hanya ditemukan gundukan tanah dan sejumlah arca kuno yang berserakan. Namun oleh masyarakat pengemong pura, lokasi itu masih dimanfaatkannya untuk pemujaan dengan mendirikan bangunan sederhana di atasnya.

Baru setelah beberapa tahun kemudian Balai Arkeologi Denpasar mengadakan observasi ke lokasi tersebut dan menemukan sejumlah peninggalan arca yang diperkirakan berasal dari abad XIV. “Observasi pun dilakukan secara tidak sengaja. Waktu itu tahun 1986, Balar sedang melakukan penelitian di Cangi, kemudian atas permintaan warga tim Balar diantarkan ke Situs Wasan,” jelasnya.

Baca juga:  Keju dan Susu Berlemak Tinggi Tak Terbukti Tingkatkan Risiko Jantung

Dijabarkan dalam penelitian dari 1986 sampai 2006 telah berhasil menemukan tinggalan arkeologi seperti candi dengan konstruksi susunan batu dan sebuah kolam yang telah dipugar oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya, Bali NTB, NTT tahun 2009.

Dengan adanya hasil penelitian tersebut, keinginan tidak pupus sampai disitu dan masih ada kecurigaan akan adanya bangunan lain yang belum terungkap, sehingga penelitian ditindaklanjuti dengan diadakannya kegiatan penggalian tahun 2011 hingga tahun 2017 sekarang ini.

Pemangku Pura Puseh Wasan, Jro Mangku Wayan Lasia Siaja, mengungkapkan sebelum dilakukan penelitian dikawasan tersebut merupakan semak belukar, setelah dilakukan penelitian sampai sekrang barulah dilakuakn perombakan total. “ Dulu disini itu hutan, dengan empat pohon beringin,  “ katanya.

Kini dengan diketahui adanya peninggalan seperti ini ia pun sangat mendukung supaya masyarakat tahu tentang sejarah dari situs Wasan. Pura Puseh Wasan ini bisa dikatakan cukup unik, yakni hanya di empon 10 KK dari tiga banjar berbeda. Sebanyak 5 KK dari Banjar Blahtanah Desa Batuan Kaler, 1 KK dari Banjar Tangkeban Desa Batubulan Kangin dan 4 KK dari Banjar Kenanga Desa Batubulan Kangin.

Keberadaan Candi yang sangat strategis di daerah lintasan Denpasar-Gianyar, memungkinkan situs ini menjadi daya tarik wisata. Hal itupun diungkapkan Jro Mangku Wayan Lasia Siaja. Bahkan beberapa kali, sejumlah wisatawan asing melakukan kunjungan ke situs ini. “Sudah sering tamu dari Belanda dan Perancis datang kesini. Katanya mereka dapat informasi di internet. Datang kesini untuk tujuan wisata spiritual. Tetapi mereka sering mengeluhkan kesulitan mencarai lokasi situs, “ katanya.

Dari keluhan itu pihaknya pun beberapa kali meminta bantuan Plang Nama Situs Wasan ke Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Gianyar, namun hingga kini belum terealisasi. “Tahun 2000-an paling sering datang wisatawan kesini. Bahkan ada yang sampai mekemit untuk melakukan meditasi. Belakangan jarang, mungkin karena tidak ada informasi plang nama Situs,” tandasnya. (manik astajaya/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.